BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/ bahasa tulisan. Suatu proses dimana kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam suatu pandangan sekilas dan makna kata secara undividual akan dapat diketahui.
Dalam membaca dikenal jenis membaca telaah isi yang memiliki pengertian membaca dengan cara meneliti bahan yang tersedia dengan tidak mengesampingkan ketelitian, pemahaman, serta kekritisan dalam berfikir.
1.2. Rumusan Masalah
Dalam penulisan makalah mengenai Membaca Telaah Isi bila kita tidak menentukan patokan-patokan yang jelas mengenai hal-hal yang akan kita bahas tentunya kita akan memperoleh kesulitan dalam mengembangkan makalah ini.
Mengingat adanya keterbatasan dalam kemampuan penulis dan demi terarahnya penulisan makalah maka penulis membatasi permasalahan pada hal-hal:
1. Apa yang dimaksud dengan membaca teliti?
2. Apa yang dimaksud dengan membaca kritis?
3. Apa yang dimaksud dengan membaca ide?
1.3. Tujuan Penulisan
Bertitik tolak dari pertanyaan yang diajukan penulis, maka penulisan makalah ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan membaca teliti
2. Mengetahui apa yang dimaksud dengan membaca pemahaman
3. Mengetahui apa yang dimaksud dengan membaca kritis
4. Mengetahui apa yang dimaksud dengan membaca ide
BAB II
LANDASAN TEORITIS
Dalam proses belajar mengajar mengajar maupun kehidupan sehari-hari manusia tidak bisa dilepaskan dari kegiatan membaca, baik itu untuk tujuan pedidikan( memperoleh nilai, maupun untuk kesenangan semata ).
Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/ bahasa tulisan. Suatu proses dimana kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam suatu pandangan sekilas dan makna kata secara individual akan dapat diketahui.
BAB III
METODE dan PEMBAHASAN
3.1. Metode dan Prosedur Penulisan
Mengacu pada tujuan penulisan makalah ini, maka metode yang penulis pilih adalah metode merangkum . Arikunto (2005:131) menyatakan bahwa, “metode merupakan cara utama yang dipergunakan untuk mencapau suatu tujuan, misalnya untuk menguji serangkaian hipotesa, dengan mempergunakan teknik serta alat alat tertentu”. Selanjutnya dikemukakan pula bahwa, “Penelitian eksperimen merupakan penelitian yang dimaksudkan mengetahui ada tidaknya akibat dari suatu yang dikenakan pada subjek selidik”. . Jadi dengan metode ini penulis merangkum semua bahan yang ada untuk mendapatkan bahan-bahan yang sesuai dengan penulisan makalah. Membaca telaah isi agar bisa memperoleh bahan yang tepat dengan pembahasan makalah.
3.2. Membaca Teliti
Membaca teliti merupakan suatu kegiatan yang sama pentingnya dengan membaca sekilas sering kali kita perlu membaca teliti bahan-bahan bacaan yang kita sukai. Dalam kegiatan membaca teliti dituntut suatu pemutaran atau pembalikan pendidikan yang menyeluruh. Membaca teliti memerlukan keterampilan, antara lain :
1) Survei yang cepat untuk memperhatikan/melihat organisasi dan pendekatan umum
2) Membaca secara seksama dan membaca ulang paragraph-paragraf untuk menemukan kalimat judul dan perincian-perincian penting
3) Menemukan hubungan setiap paragraph dengan keseluruhan tulisan atau artikel.
1. Membaca Paragraf dengan Pengertian
Paragraf yang tertulis rapi biasanya mengandung sebuah pikiran pokok (central thought). Pokok pikiran terkadang diekspresikan dalam suatu kalimat judul (topic sentences) pada awal paragraph. Tetapi ada pula pokok pikiran yang dinyatakan dalam dua atau tiga kalimat. Oleh karena itu kita perlu melatih diri mengenal pokok pikiran dalam paragraph serta melihat bagaimana caranya paragraf mengembangkan pikiran tersebut.
Beberapa cara yang bisa digunakan untuk mengembangkan pokok pikiran suatu paragraf :
a) Dengan mengemukakan alasan-alasan
b) Dengan mengutarakan perincian-perincian
c) Dengan mengetengahkan satu atau lebih contoh
d) Dengan memperbandingkan atau mempertentangkan dua hal
( Albert (et al) dari Tarigan 1979 : 41)
Dalam pengembangan pokok pikiran dalam suatu paragraph yang harus diperhatikan adalah walaupun kebanyakan paragraph tidak tersusun sesuai dengan contoh, namun semua paragraph yang baik memiliki suatu organisasi yang dapat dikenal. Berikut ini beberapa contoh dari setiap cara pengembangan pikiran pokok sesuai ketentuan diatas.
a. Pengembangan Paragraf dengan Mengemukakan Alasan
Pada contoh paragraph berikit ini, kita bisa melihat bahwa pokok fikiran dinyatakan dengan jelas dalam satu kalimat judul (yang dicetak miring). Perhatikan cara penulis mengembangkan pokok pikiran dengan mengemukakan alas an-alasannya :
Ada beberapa alasan mengapa saya memilih bahasa Simalungun sebagai bahan disertasi saya. Pertama, penelitian mengenai bahasa Simalungun masih sangat langka. Kedua, bahasa Simalungun merupakan jembatan penghubung antara bahasa- bahasa Batak Utara dengan Bahasa-bahasa Batak Selatan … (Henry Guntur Tarigan 1979 ; 41)
Kita dengan mudah dapat organisasi paragraph tanpa menemui kesulitan. Inilah kerangka paragraph tersebut :
1) Penelitian mengenai bahasa Simalungun masuh sangat langka
2) Bahasa Simalungun merupakan jembatan penghubung (antara bahasa-bahasa Batak Utara dengan bahasa-bahasa Batak Selatan)
b. Pengembangan Paragraf dengan Mengutarakan Perincian
Apabila pokok pikiran suatu paragraf merupakan suatu pernyataan yang memerlukan suatu penjelasan atau keterangan atau keterangan, penulis yang baik akan mengutarakan perincian-perincian yang membuat keterangan itu menjadi jelas dan lengkap. Perhatikan contoh berikut ini yang dikembangkan dengan cara mengutarakan perincian-perincian untuk menunjang pokok pikiran :
Pendidikan yang ditempuhnya penuh pengorbanan dan tanpa pamrih selama bertahun-tahun, baik itu didalam maupun diliar negeri dengan bermodalkan tekad dan cita-cita yang luhur, mengangkat harkat dan mertabat keluarganya ke tingkat yang lebih tinggi dan lebih mulia dimata masyarakat. Betapa tidak. Suaru keluarga misakin, dolongan rendah, maju dalam pendidikan. Dari enam orang anak satu sudah menjadi sarjana ………..
c. Pengembangan Paragraf dengan Mengetengahkan Contoh
Dalam penilisan paragraf, seorang penilis seringkali menerangkan kalimat judul dengan menggunakan contoh untuk menjelaskan apa yang ia maksudkan.
Perhatikan contoh paragraph berikut :
Bahkan orang awam yang berasal dari desa yang jauh dari pedalaman sekalipun tahu menghargai bahasa mereka. Mereka meghargai serta mempertahankan kelangsungan hidup serta keaslian bahasa mereka. Inilah suatu ilustrasi yang memperlihatkan bagaimana Sahap Simalungun
d. Pengembangan Paragraf dengan Perbandingan atau Pertentangan
Cara lain yang bisa digunakan untuk mengembangka pokok pikiran suatu paragraph yaitu dengan perbandingan atau pertentangan dengan komparasi atau kontras. Penbaca hendaknya menyadari fungsi dari komparasi sangat penting terutama sebagai suatu penjelasan terhadap pernyataan umum kalimat judul. Pembaca haruslah menghindarkan diri dari keasyikan terhadap fakta-fakta serta perincian-perincian yang disajikan oleh penulis yang justru menghilangkan hal yang sebenarnya hendak dilikuskan penulis.
2. Membaca Pilihan yang Lebih Panjang
Apabila kita sudah bisa membaca suatu paragraph yang tepat, kita tidak akan menghadapi kesulitan dalam menghubungkan bab atau artikel yang memuat paragraph tersebut. Seperti juga halnya kalimat-kalimat yang mengembangkan pokok pikiran suatu paragraph, suatu paragraph pun turut menunjang dalam pengembangan pokok pikiran keseluruhan bab atau artikel.
Kemampuan untuk menghubungkan paragraph-paragraf tunggal dan kelompok-kelompok paragraph dengan penggalan keseluruhan tulisan sangat penting dalam membaca teliti. Begitu pula kemampuan untuk membeda-bedakan, antara paragraph-paragraf yang memuat serta menyajikan ide-ide pokok atau ide-ide utama dan paragraph yang semata-mata hanya mengurai atau menerangkan ide-ide dalam paragraf-paragraf terdahulu (Albert (et al) 1979 : 45)
3. Membuat Catatan
Sebagai tambahan terhadap nilai catatan-catatan itu sendiri, proses actual pembuatan catatan memantu kita dalam beberapa ha antara lain :
a) Menolong kita memahami apa yang kit abaca atau apa apa yang kita dengan
b) Membuat kita terus-menerus mencari fakta-fakta dan ide-ide yang penting
c) Membantu ingatan kita
Catatan yang dibuat bisa berdasarkan bacaan yang kit abaca ataupun berdasarkan penjelasan atau paparan yang kita dengar.
a. Mengenai Bacaan
Apabila kita ingin membuat catatan mengenai bahan yang kit abaca hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1) Bacalah sekilas seluruh kutipan atau pilihan sebelim membuat catatan
2) Tentukan hal-hal apa yang perlu kita catat ( hal yang mendetil atau ide-ide pentingnya saja)
3) Butlah catatan dengan menggunakan kata-kata sendiri
4) Kembangkanlah system-sistem sendiri mengenai penyingkatan dan pemenggalan kata-kata
5) Apabila mengutip sesuatu pakailah tanda kutipan.
6) Buatlah catatan yang jelas dan singkat
7) Periksa kembali apakah catatan tentang hal-hal yang penting tidak terlewatkan.
b. Menandai Buku
Mortimer J. Adler menulis sebuah artikel yang berjudul “How to Mark a book” yang menulis tentang hal-hal yang berkaitan debgan penandaan buku berikut ini beberapa hal yang dianjurkan berkaitan dengan penandaan buku :
1) Haruslah ditegaskan bahwa tindakan menandai buku bukan merupakan tindakan pengrusakan terhadap buku melainkan merupakan suatu bentuk kecintaan terhadap buku
2) Kita membaca sesuatu antara baria-baris. Sama pentingnya dengan menulis antara baris-baris
3) Jangan menandai buku yang bukan merupakan milik kita
4) Memiliki buku dalam arti yang sebenarnya bukan berarti membiatkan buku bersih tanpa kita tandai
5) Terdapat beberapa cara yang bisa digunakan dalam menandai buku :
a. Menggarisbawahi hal-hal yang penting, perntataan utama serta yang memberikan dorongan
b. Member tanda-tanda bintang atau asterisk pada halaman pinggir
c. Member angka-angka pada halaman pinggir
d. Membubuhka nomor halaman lain pada pinggir halaman
e. Melingkari kata-kata atau frase yang sianggap penting
f. Menulis serta membuat catatan pada pinggir halaman.
4. Dalam Kelas
Apabila kita sedang dalam lingkungan kelas adalalanya infornasi yang disampaikan oleh pendidik tidak ada dalam buku maka hal yang harus kita lakukan adalah dengan cara mencatat hal-hal yang kita perlukan. Hal-hal yang bisa menolong kita dalam membuat catatan antara lain :
a) Jangan mencatat semua hal yang diucapka oleh pembicara tapi, catatlah hal-hal yang terpentingnya saja
b) Dengarkanlah isyarat-isyarat yang diberikan yang menandakan bahwa suatu kata atau frase itu penting
c) Apabila ketinggalan dalam mencatat maka tinggalkan spasi dalam catatan dan lanjutkan mencatat
5. Menelaah Tugas
Agar siswa bisa lebih memahami apa saja yang disampaikan pendidik serta menyelesaikan tugas dengan baik, maka perlu dibiasakan belajar dengan cara SQ3R yaitu Survey, Question, Read, Recite, Review. Apabila kita mempraktikan metode ini maka kita bisa menyelesaikan tugas dalam waktu yang singkat dan juga bisa memperoleh hasil yang baik. Berikut ini penjelasan mengenai metode SQ3R :
a) Survey ( Penelitian Pendahuluan )
Hal yang bisa kita lakukan yaitu dengan cara memeriksa keseluruhan judul-judul, sub judul, bab utama. Tidak lupa juga perhatikan organisasi bab tersebut. Baca secara sekilas paragraph pertama.
b) Question ( Tanya )
Apabila kita membaca untuk bisa memperoleh jawaban dari pertanyaan yang sudah kita punyai biasanya kita akan lebih teliti serta berhati-hati dalam membaca baik itu kalimat maupun kata oleh sebab itu siapkanlah beberapa pertanyaan sebelum kita akan membaca.
c) Read ( Baca )
Bacalah paragraph demi paragraph dengan seksama, karena setiap paragraph memiliki pokok pikiran yang bisa kita perileh dengan cara – cara yang sudah kita jelaskan sebelumnya.
d) Recite ( Ceritakanlah Kembali dengan Kata – kata Sendiri)
Apabila kita sudah membaca dengan teliti maka ingatlah kembali isi bacaan yang kita baca kemudian, ingtlah bab-sub bab yang terpenting atau juga kata kunci dari hal-hal yang terpenting kemudian bila kita sudah bisa memahaminya cobalah menjawab pertanyaan dengan menggunakan kata-kata kita sendiri berdasarkan atas apa yang sudah kit abaca dan pahami.
e) Review ( Tinjau Kembali )
Periksa kembali bahan yang sudah kit abaca dengan cara meluhat judul, gambar, diagram tinjau kembali pertanyaan, dan saran-saran studi lainnya.
3.3. Membaca Pemahaman
Membaca pemahaman atau ( reading for understanding ) adalah sejenis membaca yang bertujuan hal-hal sebagai berikut :
1. Standar-standar atau norma-norma kesusastraan ( literarystandards)
Penulis kreatif dalam bidang fiksi, drama, puisi, biografi dll. Memiliki beberapa pengalaman hidup yang hendak disampaikan kepada pembacanya. Pengarang ingin agar kita merasakan apa yang telah dirasakannya mengenai emisi yang sering dijumpainya, dia ingin agar kita bisa memahami kekuatan fakta dan visi kebenaran yang telah dilihatnya serta dirasakannya. Para seniman kreatif sangat peka terhadap kekuatan serta keindahaan kata-kata. Ia sadar akan seluk-belik serta kepelikannya memahami anekarona konotasi kata. Perlu diketahui bahwa tidak semua aspek seni sastra kreatif muncul serta terlihat pada setiap penggal karya sastra.
Untuk itu kesusastraan dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara, antara lain sebagai berikut :
a. Puisi atau prosa
b. Fakta atau fiksi
c. Klasik atau modern
d. Subjektif atau objektif
e. Eksposisi atau normative
2. Resensi kritis ( critical review)
Ditinjau dari segi batas kemampuan kita sebagai manusia, tidaklah mungkin membaca semua buku dan artikel yang baik setiap harinya. Agar bisa tetap memperoleh informasi tentang apa yang dipikirkan serta yang ditulis dalam kehidupan orang-orang besar dalam kehidupan maka seseorang dapat membaca resensi-resensi kritis mengenai fiksi mauksi. Tulisan singkat seperti itu, yang biasanya dapat dibaca beberapa menit, memiliki beberapa menfaat antara lain :
a. Mengetengahkan komentar-komentar mengenai kesegaran oksposisi atau cerita, memberikan pertimbangan serta penilaian betapa baiknya tugas tersebut dilaksanakan , dipandang dari segi maksud dan tujuan pengarang
b. Mengutarakan komentar-komentar mengenai gaya, bentuk, serta nilai atau manfaat kesastraan umum bagian tersebut
c. Memberikan suatu rangkuman pandangan, pendirian, atau point of view
d. Mengemukakan fakta-fakta untuk menunjang pertinbangan dan penilaian serta analisis isi dengan cara mengutip atau menunjukan secara langsung pada karakter-karakter, situasi-situasi, yang ada dalam artikel atau buku.
3. Drama tulisan ( printed drama)
Ada dua cara untuk menikmeti sandiwara\drama. Yang pertama dalam tingkatan aksi primitive, dalam hal ini penonton mengalami getaran ketegangan, kekejaman, sehingga menimbulkan keinginan untuk melihat bagaimana hal itu dikeluarkan dan diperankan. Pada tingkatan selanjutnya yaitu pada tingkatan individual yang bersifat interpretative, dalam hai ini pembaca dapat menarik kesimpulan, memvisualisasikan tokoh-tokoh, memproyeksikan akibat-akibat, serta mengadakan interpretasi ketika ia membaca serta membawa kesempurnaan pengalamannya pada bacaan yang ia baca.
Apabila pembaca sudah memahami serta mengkritisi drama maka ia akan bisa mengerti beberapa hal antara lain sebagai berikut :
a. Prinsip Kritik Drama
Pada abad ke-18 seorang dramawan Jerman yang bernama Goethe memformulasikan tiga prinsip kritik drama, yang sangat terkenal dalam bentuk pertanyaan yang dikenal dengan “Prinsip Goethe” adalah sebagai berikut :
1) Apakah yang hendak dilakukan oleh seniman?
2) Betapa baiknya ia melakukan hal itu?
3) Bermanfaatkah hal itu dilakukan?
Apabila kita berusaha menjawab pertanyaan yang pertama kita akan menghadapi fakta-fakta. Kita akan sampai pada jawaban-jawaban factual terhadap pertanyaan-pertanyaan yang lain yang timbul
Apabila kita menjawab pertanyaan kedua kita akan mempertimbangkan betapa baikkah sang seniman telah memanfaatkan unsure-unsur drama serta telah memadunya menjadi suatu keseluruhan yang artistic dan efektif
Sedangkan apabila kita menjawab pertanyaan yang ke tiga maka kita akan bisa mengemukakan pendapat kita. Apabila kira sudah menjawab pertanyaan pertama dan kedua dengan baik maka kita akan dengan mudahnya menjawab pertanyaan yang ke tiga.
b. Unsur-unsur Drama
Unsur yang termasuk kedalam unsur drama antara lain:
• Plot
• Karakterisasi
• Dialog
c. Jenis-jenis Drama
Bila kita mencermati jenis lakon kita akan mendapati lakon yang serius, dan lakon yang ringan. Berangkat dari hal tersebut maka lakon dapat dibedakan menjadi beberapa jenis antara lain :
1) Tragedi
Tragedy adalah sejenis drama yang mempunyai ciri sebagai berikut:
Sebuah lakon sedih yang bercerita mengenai suatu subjek serius
Seorang pahlawan atau pelaku utam aharuslah seseorang yang memiliki rupa atau pesona yang memiliki sifat-sifat seperti pahlawan
Emosi merupakan dasar pada lakon itu
2) Komedi
Komedi memiliki cirri sebagai berikut:
Lakon ini mungkin mengenai subjek yang serius maupun subjek yang ringan, yapi senantiasa memperlakukan subjeknya pada taraf yang dan nada yang ringan
Lakon ini mengenai peristiwa-peristiwa yang bertaraf, baik itu basar maupun kecil memiliki kemungkinan untuk terjadi
Apa-apa yang muncul dari tokoh bukan dari situasi
Gelak tawa yang ditimbulkan oleh lakon merupakan gelak tawa yang bijaksana
3) Melodrama
Sebuah melodrama memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
Menampilkan suatu objek yang serius
Memiliki unsur kesempatan dan kebetulan
Emosi atau rasa kasihan yang timbul cenderung ke arah sentimental
Seorang pahlawan senantiasa memenangkan perjuangannya
4) Farce
Farce memiliki ciri sebagai beriku t :
Peristiwa maupun lakon bisa muncul maupun tidak
Menimbulkan kelucuan yang tidak karuan
Bersipat episodic
Segala yang terjadi muncul dari situasi bukan dari tokoh
4. Pola-pola fiksi ( patterns of fiction)
a. Pengertian fiksi
Fiksi merupakan penyajian atau presentasi seorang pengarang memandang hidup. Penulis mempunyai ide-ide mengenai kehidupan, sekalipun dia mungkin tidak pernah bersusah payah menyatakan ide-ide tersebut pada dirinya sendiri dalam istilah-istilah umum. Maka dari itu fiksi bisa dikatakan merupakan suatu istilah yang dipergunakan untuk membedakan uraian yang bersifat historis dari uraian yang bersifat historis, dengan penunjukan khusus atau penekanan khusus pada segi sastranya. ( Brooks, Purser and Warren , dari Tarigan 1979 : 76)
b. Fiksi dan Nonfiksi
Perbedaan yang utama yang membedakan antara fiksi dengan non fiksi terletak pada tujuan. Maksud dan tujuan pada narasi yang non-fiksi, seperti sejarah, biografi, berita dll. Adalah untuk menciptakan kembali apa yang telah terjadi secara actual.
Atau kita juga bisa mengatakan bahwa cerita non fiksi bersifat aktualis sedangkan cerita fiksi bersifat realitas.
c. Unsur-unsur Fiksi
Dalam penulisan sebuah fiksi, perlu diperhatikan prinsip-prinsip teknis sebagai berikut :
1) Permulaan dan eksposisi
2) Pemerian dan latar
3) Suasana
4) Pilihan dan saran
5) Saat penting
6) Puncak, klimaks
7) Pertentangan, konflik
8) Rintangan, komplikasi
9) Pola atau model
10) Kesudahan
11) Tokoh dan aksi
12) Pusat minat
13) Pusat tokoh
14) Pusat narasi
15) Jarak
16) Skala
17) Langkah
Beberapa istilah yang sering kita temui dalam cerita fiksi antara lain :
1) Tema
Tema merupakan dasar tujuan penulis melukiskan watak para pelaku dalam cerita. Tema tidaklah dijelaskan secara eksplisit oleh pengarang tetapi pembaca bisa memahami maksud serta tujuan penulisan cerita setelah ia selesai membaca cerita.
2) Plot
Istilah lain yang digunakan untuk memaknai plot adalah trap yang memiliki makna struktur gerak atau laku dalam fiksi maupun drama. Suatu fiksi haruslah bergerak dari suatu permulaan, melalui suatu pertengahan, menuju suatu akhir. Dalam istilah sastra lebih dikenal dengan istilah eksposisi, komplikasi, dan resolusi.
3) Pelukisan watak
Dalam sebuah cerita fiksi tentulah dikenal tokoh yang berperan dalam cerita. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh pengarang untuk melukiskan tokoh antara lain :
a) Melukiskan bentuk lahir tokoh
b) Melukiskan jalan pikiran tokoh
c) Melukiskan bagaiman reaksi tokoh terhadap keadaan sekelilingnya
d) Pengarang dengan langsung menganalisis watak tokoh
e) Pengarang melukiskan keadaan di sekeliling tokoh
f) Pengarang melukiskan pandangan tokoh terhadap tokoh lain
g) Perbincangan antar tokoh
d. Jenis- Jenis Fiksi
Fiksi diklasifikasikan berdasarkan :
1) Berdasarkan bentuk
Berdasarkan bentuknya, fiksi dapat dibedakan atas :
Novel
Novelet/cerita pendek
vignette
cerita singkat
2) Berdasarkan isi
berdasarkan isinya maka fiksi dapat kita bagi atas beberapa jenis yaitu :
Impresionisme
Romantic
Realisme
Sosialis-realisme
Realisme sebenarnya
Naturalisme
Ekspresionisme
Simbolisme
3.4. Membaca Kritis
Membaca kritis adalah sejenis membaca yang dilakukan secara bijaksana, penuh tenggang hati, mendalam, evaluative, serta analitis dan bukannya mencari-cari kesalahan.
Pada umumnya menbaca kritis menuntut agar para pembaca :
1) Memahami Maksud Penulis
Langkah pertama yang harus dilakukan oleh pembaca dalam kegiatan membaca kritis adalah menentukan serta memahami maksud dan tujuan penulis. Kebanyakan tulisan memenuhi beberapa unsure diantaranta: memberitahu, meyakinkan, mengajak, mendesak, atau menghibur.
Dalam membaca serta memahami maksud penulis, kita perlu melakukan hal-hal sebagai berikut :
a) Carilah paragraph-paragraf pendahuluan suatu pernyataan mengenai maksud penulis, kemudian cari pada paragraph-paragraf penutup suatu uraian atau penjelasan terhadap maksud tersebut.
b) Perhatikan baik-baik bagaimana caranya meksud penulis tersebut menentukan rung lingkup pembicaraannya
c) Perhatikan bagaimana caranya maksud tersebut scspksli menentukan organisasi serta penyajian bahannya
d) Carilah maksud-maksid yang tersirat, yang tersembunyi
2) Memanfaatkan Kemampuan Membaca dan Berfikir Kritis
Kemampuan membaca dan berfikir kritis menuntut kita agar sadar akan sikap-sikap dan prasangka-prasangka kita sendiri, dan unsur-unsur lain dalam latar belakang pribadi yang mungkin mempengaruhi kegiatan membaca dan berfikir.
Sebagai seorang pembaca yang bertanggung jawab, kita hendaklah memperhatikan hal-hal berikut ini dalam membaca atau menyumak pembicaraan-pembicaraan yang kontroversial :
a) Harus yakin bahwa kita membaca atau menyimak untuk memehami apa yang disajikan sebelum kita mulai mengutarakan pendapat
b) Setelah kita memberikan suatu pendengaran yang jujur terhadap penyajian atau uraian orang lain analisislah asumsi serta praduga kita untuk melihat apakah kita berfikir secara jelas dan objektif
c) Jangan biarkan fikiran serta prasangka menyebabkan kita hanya mengingat fakta dan alasan serupa sebagai suatu penunjang terhadap pandangan kita sebelumnya
d) Jangan biarkan keinginan untuk menyangkal mencegah pemahaman kita terhadap penyajian uraian orang lain
e) Cobalah meluhat logika penyajisan atu dari sudut maksud serta asumsi penulis.
3) Memahami Organisasi Dasar Tulisan
Maksud penulis dalam menulis suatu artikel menentukan sifat dan lingkup pembicaraannya, rangka dasarnya, dan sikap umum serta pendekatannya.
Pembaca yang teliti mengamati indikasi atau petunjuk mengenai pilihan serta bagaimana caranya tulisan itu disajikan. Biasanya, penyajian seorang penulis debagi menjadi tiga bagian antara lain :
a. Pendahuluan
Dalam pengkomunukasian ide0ide secara jelas, seorang penilis akan mempergunakan satu atau lebih paragraph pembukaan untuk memperkenalkan subjeknya beserta pendekatan khusus terhadap hal-hal yang akan dibahasnya dan juga temanya. Penulis juga sering menunjukan secara singkat pokok-pokok penting yang akan dicakup, yaitu kerangkanya dan menetapkan aspek-aspek masalah apa yang akan dimasukan atau dikeluarkan atau penulis hendak menyatakan ruang dan pembahasan uraiannya.
b. Isi
Isi suatu tujuan biasanya terbagi atas dua lebih bagian utama, tempat mengutarakan kasus sekonklisif atau segamblang mungkin. Kadang kita bisa menemukan petunjuk-petunjuk tipografis mengenai bagian penting dengan bantuan angka-angka Romawi, judul dicetak tebal dll.
Seorang penulis yang cermat akan membuat pembaca mudah dalam mengikiti kecenderungan fikirannya.
c. Kesimpulan
Menjelang penutup artikel kita seringkali memperhitungkan bahwa penulis sering mengalihkan perhatian dari apa yang sudah dikatakan menuju apa yang akan dikatakan. Ini merupakan tanda bahwa penulis akan menyimpukkan artikel yang sudah ditulisnya.
4) Menilai Penyajian Pengarang
Sebagai pembaca yang kritis, kita harus mampu menilai, mengevaluasi penyajian bahan penulis. sebagai perhatian terhadap maksud, dan caranya penulis menulis serta menyusun bahan tersebut, kita harus menentukan apakah dia telah mencakup pokok masalah secara memuaskan atau tidak. Kita harus bisa membaca dengan memiliki pertanyaan dalam hati. Pertanyaan tersebut diajukan dari berbagai segi antara lain :
a. Segi Informasi
1) Apakah sumber informasi penulis? apakah sumber tersebut dapat dipercaya?
2) Apakah terdapat jurang-jurang dalam informasinya?
3) Apakah analisis atau interpretasinya mengenai informasi tepat?
4) Apakah terdapat masalah-masalah penting yang harus dipecahakan?
5) Apakah informasi dan isi umum sesuai dengan meksud dalam artikel?
b. Segi Logika
1) Apakah penulis menuntut intelektualitas pembacanya?
2) Apakah penulis membedakan antara fakta-fakta dan interpretasinya sendiri ?
3) Apakah penulis menunjang kesimpulan dengan fakta?
4) Apakah terdapat jurang analisis dalam argumennya?
5) Apakah dia secara sengaja atau tidak terbiasa dalam pemahaman yang keliru?
c. Segi Bahasa
1) Apakah penulis menyandarkan diri pada kata konotatif, , harfiah atau pada kata denitataif dan emosional?
2) Apakah ia mempergunakan kata yang emosional secara berlebihan?
3) Apakah pemilihan kata yang umum atau tidak bermaksud mempengaruhi pembaca?
4) Apakah mempergunakan kata yang mencerminkan prasangka-prasangka atau tidak?
d. Segi Kualifikasi
1) Siapakah dia, apa minatnya?
2) Apa latar belakang pendidikannya?
3) Apa pendapatnya mengenai subjek-subjek itu?
4) Mengapa ia menulis buku atau artikel seperti itu?
5) Apakah ia objektif atau tidak dalam penulisannya?
e. Segi Sumber Informasinya
1) Apakah informasinya diambil dari sumbar yang dapat dipercaya?
2) Pahah sumbernya diambil daariiiah atau popular?
3) Apakah ahli tempat mereka mengambil informasinya berwenang memberi informasi?
4) Apakah majalah, Koran, famplet ada hubenhannya dengan isi artikel yang dapat merubah sudut pandang pembaca?
5) Apakah sumber penulis mewakili penggambaran masalah?
5. Menerapkan Prinsip Kritis pada Bacaan Sehari-hari
Banyaknya bahan bacaan mendorong kita menciptakan pronsip-prinsip yang dapat membimbing kita dalam membaca. Pada umumnya bahan bacaan harus mencakup hal-hal yang bisa membuat kita bisa mengikuti perkembangan-perkembangan mutakhir dalam berbagai aspek kehidupan serta pengetahuan.
Selain itu banyaknya bahan-bahan bacaan umum lainnya seperti Koran, majalah, tabloid dll. Menambah banyaknya bahan bacaan yang kita baca. Oleh sebab itu ada baiknya bila kita mengingat pertanyaan-pertanyaan berikit ini bila kita sedang membaca majalah, Koran tabloid :
a) Siapa pemilik Koran atau majalah tersebut?
b) Apakah kebijaksanaan tajuk rencana sudah diakui penerbit lain?
c) Afiliasi politik, social, ekonomi manakah yang dapat mewarnai pendapat-pendpatnya?
6. Meningkatkan Minat Membaca
Untuk meningkatkan minat menbaca hal yang harus kita lakukan antara lain:
a. Menyediakan Waktu untuk Membaca
Kendala yang sering kita jumpai dalam kegiatan membaca adalah terbatasnya waktu yang kita miliki. Oleh sebab itu diperlukan menejmen waktu yang baik serta efisiensi dalam membaca. Membaca tidaklah harus menyita waktu yang banyak karena kita bisa membaca dengan mengefisienkan waktu.
b. Memilih Bahan Bacaan yang Baik
Menyediakan waktu untuk membaca sangat erat kaitannya dengan salah satu aspek yang paling penting dari membaca kritis, yaitu mengetahui apa yang baik dan bermanfaat untuk dibaca. Beberapa pertimbangan dibawah ini akan bisa membimbing kita memilih bacaan pada waktu terluang.
(1) Beberapa buku dibaca demi kesenangan
(2) Beberapa buku dibaca dengan tujuan memperluas cakrawala
(3) Beberapa buku ditetapkan sebagai buku-buku klasik
(4) Beberapa buku dipilih berdasarkan rekomendasi orang lain
(5) Beberapa buku dibaca karena pembaca sudah mengenal penulis
7. Prinsip Pemilihan Bahan Bacaan
Setiap buku memang pantas dibaca akan tetapi keterbatasan waktu serta beberapa hal lain menuntut kita untuk selektif dalam menentukan bahan bacaan yang akan kita baca. Oleh sebab itu setiap orang hendaklah memiliki criteria tertentu untuk bahan bacaannya. Dalam pemilihan bahan bacaan hendaklah memperhatika prinsip-prinsip.
1. Buku Yang Pantas Dibaca
2. Norma-norma kritik
8. Membaca Majalah
Dalam belajar Membaca Kritis biasanya lebih dititik beratkan pada bahan bacaan buku, tetapi sebenarnya prinsip-prinsip dasar dapat diterapkan denlam membaca majalah yang lebih baik.
3.5. Membaca Ide
Membaca ide adalah sejenis kegiatan membaca yang ingin mencari, memperoleh, serta memanfaatkan ide-ide yang terdapat pada bacaan. Agar kita dapat mencari, menemukan, serta mendapat keuntungan dari ide-ide yang terkandung dalam bacaan, kita harus berusaha membuat diri kita menjadi pembaca yang baik atau a good reader. Berikut ini beberapa criteria penbaca yang baik.
1. Pembaca Yang Baik Tahu Mengapa Dia Membaca
Pembaca yang baik mengetahui bahwa tujuan dia membaca adalah untuk:
a. Mencari informasi
b. Menikmati bacaan
2. Pembaca Yang Baik Mengetahui Apa Yang Dibacanya
Pembaca yang baik harus memahami apa yang dibacanya, hal ini menuntut pengetahuan mengenai kata-kata dan keresponsifn terhadap organisasi dagian sebagai suatu keseluruhan.
3. Pembaca Yang Baik Harus Menguasai Kecepatan Membaca
Setiap pembaca harus memiliki ragam kecepatan membaca, dapat menyesuaikan dengan karakteristik buku baik itu cetakan yang menuntut perhatian maupun beberapa hal lainnya diantaranya :
a. Membaca sekilas
b. Membaca cepat
c. Membaca demi kesenangan
d. Membaca serius bahan-bahan penting
4. Pembaca yang baik harus mengenal media cetak
Pembaca yang baik haruslah mengenal bebtuk-bentuk kontemporer media cetak, yang meliput:
a. Buku saku
b. Media grafika
c. Majalah
d. Surat kabar
BAB IV
SIMPULAN dan SARAN
4.1. Simpulan
Berdasarkan hasil perangkuman materi maka dapat diambil kesimpulan sebadai berikut :
1. Membaca teliti adalah suatu kegiatan membaca yang sering kali kita lakukan apabila kita perlu membaca teliti bahan-bahan bacaan yang kita sukai. Dalam kegiatan membaca teliti dituntut suatu pemutaran atau pembalikan pendidikan yang menyeluruh.
2. Membaca pemahaman atau ( reading for understanding ) adalah sejenis membaca yang bertujuan untuk memperoleh informasi serta untuk memahami :
1. Standar-standar atau norma-norma kesusastraan ( literarystandards)
2. Resensi kritis ( critical review)
3. Drama tulisan ( printed drama)
4. Pola-pola fiksi ( patterns of fiction)
3. Membaca kritis adalah jenis membaca yang dilakukan secara bijaksana, penuh tenggang hati, mendalam, evaluative, serta analitis dan bukannya mencari-cari kesalahan.
4. Membaca ide adalah jenis kegiatan membaca yang ingin mencari, memperoleh, serta memanfaatkan ide-ide yang terdapat pada bacaan. Agar kita dapat mencari, menemukan, serta mendapat keuntungan dari ide-ide yang terkandung dalam bacaan, kita harus berusaha membuat diri kita menjadi pembaca yang baik
4.2. Saran
Membaca telaah isi merupakan suatu kegiatan membaca yang harus dikembangkan dan dibiasakan dalam proses belajar, maupun proses mengkaji isi bacaan. Oleh sebab itu peningkatan minat membaca teliti harus di timbuhkan sejak dari usia dini agar bisa mencapai tujuan yang diinginkan kelak.
DAFTAR PUSTAKA
1. Tarigan, Henry Guntur 1979. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung : Angkasa
2. Arikunto Suharsimi, (2005). Manajemen Penelitian. Jakarta : PT. Rineka Cipta
3. http//. www. Wikipedia.com
4. http//. www.geocities .com
Sabtu, 26 Juni 2010
MODEL PEMBELAJARAN
Satuan Pendidikan : SMA
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas / Semester : XII/2
Alokasi Waktu :2 x 45menit
I. Standar Kompetensi : Berbicara
Mengungkapkan informasi melalui presentasi program/proposal dan pidato tanpa teks
II. Kompetensi dasar : Berpidato tanpa teks dengan lafal, intonasi, nada, dan sikap yang tepat
III. Indikator :
• Membawakan pidato dengan lafal, intonasi, nada, dan sikap yang tepat
• Mencatat hal-hal yang perlu diperbaiki dari pidato yang disampaikan teman
• Memerbaiki cara berpidato dan isi pidato berdasarkan catatan atau masukan teman
IV. Tujuan Pembelajaran :
• Siswa dapat berpidato dengan lafal, intonasi, nada dan sikap yang tepat.
• Siswa dapat mencatat hal-hal yang perlu diperbaiki dari pidato yang disampaikan oleh teman
• Siswa dapat memperbaiki cara berpidato melalui masukan teman
V. Materi Pembelajaran :
Kamu sering melihat orang berpidato, baik pada acara resmi maupun tidak resmi. Ada beberapa cara orang berpidato, antara lain dengan membaca teks atau tanpa teks.
Kedua cara tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. Di Kelas XI, kamu telah mempelajari pidato. Pada pelajaran ini, kamu akan mempelajari kembali tentang membaca naskah pidato.
Ketika membaca naskah pidato, kamu harus memerhatikan kejelasan intonasi dan ekspresi yang tepat. Membacanya pun harus lancar. Sebaiknya, membaca teks pidato dilakukan seperti berbicara biasa, jangan seperti orang yang sedang membaca. Selain itu, pertimbangkan pula mana yang merupakan kata-kata kunci atau isi pokok pidato. Berpidatolah dengan memberikan penekanan pada kata-kata kunci.
Pada saat berpidato, kamu harus dengan percaya diri dan tampil dengan sikap yang tepat. Di samping itu, cobalah perhatikan orang yang mendengarkan pidato kamu. Arahkan sejenak pandangan mata kepada pendengar. Dengan demikian, pendengar akan merasa dihargai dan seakan-akan diajak terlibat dalam pembicaraan yang kamu sampaikan. Jika pendengar setuju dengan hal yang disampaikan, biasanya mereka akan merespons dengan mengangguk-anggukkan kepala.
Bacalah pidato berikut
Pidato Menteri Negara Lingkungan Hidup
Dalam Pembukaan
Pekan Lingkungan Indonesia 2007
Taman Wisata Mekarsari, 31 Mei 2007
Assalamualaikum wr. wb.,
Salam sejahtera bagi kita semua. Yang saya hormati Bapak Wakil Presiden RI, Para Gubernur atau yang mewakili. Hadirin yang berbahagia, puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena kita dapat berkumpul di taman Wisata Mekarsari dalam acara Pembukaan PekanLingkungan Hidup 2007. Hari ini terasa istimewa karena kita berkumpul di alam terbuka sebagai salah satu acara dari rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang bertemakan “Iklim Berubah, Waspadalah Terhadap Bencana Lingkungan!” Tema ini sangat penting untuk mengingatkan kita bahwa saat ini, sedang terjadi perubahan iklim secara global akibat meningkatnya gas rumah kaca yang berlebihan akibat pembakaran bahan bakar fosil oleh penduduk dunia. Pemanasan global yang diikuti dengan perubahan iklim menyebabkan pola curah hujan berlebihan atau sebaliknya kemarau yang panjang. Akibatnya muncul berbagai bencana, seperti banjir, longsor, peningkatan penyakit epidemik, dan perubahan musim tanam yang membahayakan dan merugikan manusia. Sesuai dengan hasil penelitian para ahli, perubahan iklim juga membawa risiko kepunahan tumbuhan dan hewan sekitar 20–30 persen. Sebagai salah satu negara yang mempunyai keanekaragaman hayati terbesar di dunia, Indonesia
dijuluki Megadiversity country yang mempunyai 12 persen mamalia dunia, 17 persen jenis burung di dunia, peringkat ke-4 primata dunia, dan peringkat dunia ke-6 amfibi. Untuk mengurangi kepunahan keanekaragaman hayati, Indonesia harus mempunyai kebijakan konservasi terhadap semua sumber daya keanekaragaman hayati. Hal itu termasuk sumber daya genetik ternak dan tanaman pertanian. Semua itu guna pemenuhan kebutuhan manusia di masa
mendatang. Partisipasi seluruh pihak, seperti masyarakat umum, dunia usaha, lembaga penelitian, pemerintah dalam upaya menyelamatkan ekosistem sebagai habitat semua spesies sangat diperlukan. Bersama ini, perkenankan saya untuk mengutip apa yang disampaikan Bapak Wakil Presiden Republik Indonesia dalam lawatannya ke Jepang kemarin.Beliau mengatakan bahwa Indonesia mengajak negaranegara dunia untuk bersama-sama menanggulangi permasalahan pemanasan global. Ditambahkan pula bahwa Indonesia akan berupaya maksimal untuk melestarikan hutan dan lahan. Oleh karena hutan Indonesia merupakan paru-paru dunia, harus ada tanggung jawab negara-negara lain dalam melestarikan hutan dan pencemarannya.
Hadirin yang saya hormati,
Sejalan dengan itu, pada acara ini akan dilakukan penanaman pohon khas dari berbagai provinsi di Wahana Puspa Daerah, Taman Wisata Mekarsari oleh Bapak Wakil Presiden Republik Indonesia bersama para Gubernur. Hal ini merupakan upaya konservasi dan edukasi bagi pelajar, pendidik, serta masyarakat umum untuk mengenali keindahan dan kekayaan hayati Indonesia yang khas dan yang terdapat di seluruh pelosok Indonesia. Sebagai wadah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam mengelola lingkungan, Pekan Lingkungan Indonesia ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk menggalang partisipasi masyarakat Indonesia untuk turut serta mengurangi emisi gas rumah kaca untuk. Untuk meminimalkan pemanasan global yang memicu perubahan iklim, diharapkan kita dapat mengubah sikap dan perilaku kita sehari-hari. Hal ini diperlukan karena pada tanggal 3–14 Desember 2007 di Denpasar, Bali, Indonesia akan menjadi tuan rumah pelaksanaan Conference of Parties (COP) United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Pada kesempatan ini, Indonesia akan berperan besar dalam diplomasi internasional untuk membela kepentingan lingkungan nasional dan global. Mari kita tunjukan kepada dunia, bahwa masyarakat dan pemerintah Indonesia telah melakukan adaptasi dan mitigasi sebagai antisipasi perubahan iklim yang dapat membawa bencana lingkungan.
Hadirin yang berbahagia,
Selama Pekan Lingkungan Indonesia 2007, diadakan kegiatan seperti "Ajang Kreasi Siswa di Bidang Lingkungan melalui Teknologi Informasi" yang diikuti oleh sekitar 1000 siswa, "Kemah hijau" yang diikuti oleh 300 siswa, berbagai dialog, seminar, lokakarya, dan pameran lingkungan hidup yang berlangsung di Jakarta Convention Center. Pada tahun ini, pameran lingkungan diikuti oleh 208 organisasi atau lembaga yang terdiri atas berbagai kelompok masyarakat seperti kelompok perempuan, pemuda, penyandang cacat, organisasi masyarakat, dunia usaha, perguruan tinggi dan instansi pemerintah pusat maupun perwakilan berbagai berbagai pemerintah daerah. Pada kesempatan ini pula jalinan kerja sama dengan mitra-mitra lingkungan semakin dieratkan dengan dilakukannya berbagai kesepakatan bersama dengan asosiasi profesi, seperti Persatuan Guru Republik Indonesia dan Ikatan Arsitek Landsekap Indonesia.
Hadirin yang berbahagia,
Terima kasih disampaikan kepada semua pihak baik penyelenggara, peserta kegiatan, peserta pameran maupun pengunjung dari berbagai daerah di seluruh Indonesia yang turut berpartisipasi dalam Pekan Lingkungan Indonesia 2007. Selanjutnya, saya mohon kesediaan Bapak Wakil Presiden Republik Indonesia untuk menanam pohon daerah bersama-sama para Gubernur. Setelah itu, Bapak Wakil Presiden dimohon untuk memberikan sambutan yang menandai diresmikannya Pekan Lingkungan Indonesia 2007. Kemudian, Bapak dimohon untuk melakukan peninjauan kemah hijau dan pameran buah-buahan.
Wassalammualaikum wr. wb.
Mekarsari, 31 Mei 2007
Menteri Negara Lingkungan Hidup,
Ir. Rachmat Witoelar.
Sumber: www.menlh.go.id
VI. Metode/ teknik pembelajaran
Metode : discoveri
Teknik : penugasan dan praktik
VII. Langkah Pembelajaran :
Kegiatan Awal
Waktu Kegiatan Guru
• Guru mengkondisikan keadaan kelas dan melakukan pengecekan kehadiaran siswa
• Guru menjelaskan tujuan pembelajan hari ini
• Guru menyampaikan metode yang digunakan saat membacakan pidato dan tujuan pidato dan hal yang harus diperhatikan dalam membacakan pidato (lafal, intonasi, nada, dan sikap yang tepat)
Kegiatan siswa
• Mencatat tujuan pembelajaran hari ini
• Memperhatikan penjelasan mengenai pembacaan pidato lafal, intonasi, nada, dan sikap yang tepat serta metode yang biasa digunakan dalam pembacaan pidato
20 menit
Kegiatan Inti
Waktu Kegiatan guru
• Setelah memberikan penjelasan mengenai hal-hal yang harus diperhatikan dalam pidato, guru memberikan contoh teks pidato untuk dibaca dan dipahami isinya
• Guru menyuruh siswa mempersiapkan diri untuk membacakan pidato tersebut di depan kelas
• Guru menuliskan tabel pengamatan pembacaan pidato di papan tulis dan menyuruh siswa untuk menuliskannya di buku masing-masing
• Guru menyuruh siswa secara bergiliran untuk membacakan pidato yang sudah dibagikan dengan memperhatikan lafal, intonasi, nada, dan sikap yang tepat)
• Guru memberikan intruksi kepada siswa lain untuk memberikan penilaian kepada temannya yang sedang berpidato dengan menggunakan tabel pengamatan.
Kegiatan siswa
• Siwa secara bergiliran membawakan pidato dengan lafal, intonasi, nada, dan sikap yang tepat
• Siswa lain mencatat hal-hal yang perlu diperbaiki dari pidato yang disampaikan teman dengan menggunakan table pengamatan yang telah diberikan oleh guru
• Siswa memperbaiki cara berpidato dan isi pidato berdasarkan catatan atau masukan teman
60 menit
Kegiatan Akhir
Waktu Kegiatan guru
• Guru memberikan kesempatan kepada siswa yang ingin menanyakan hal yang belum dipahami dari pembelajaran hari ini.
• Meminta siswa menyimpulkan pembelajaran hari ini
• Guru menyimpulkan permasalahan pada pembelajaran hari ini
• Guru menugaskan kepada siswa untuk mencari teks pidato yang akan dibacakan pada pertemuan selanjutnya.
• Guru mengucapkan salam dan keluar dari kelas
Kegiatan siswa
• Mengajukan pertanyaan apabila ada hal yang belum dipahami dari pembelajaran hari ini
• Menyimpulkan pembelajaran pada hari ini.
10 menit
Total waktu 90 menit
VIII. Sumber Pembelajaran
Buku teks. Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia Untuk Kelas X SMA/MA oleh : Adi Abdul Somad, Aminudin, Yudi Irawan. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
IX. Penilaian :
Jenis Tagihan:
• tugas individu
• lisan
Bentuk Instrumen:
• penilaian proses/ pengamatan
• uraian singkat
EVALUASI
1. Bacakankan pidato dengan lafal, intonasi, nada, dan sikap yang tepat
2. Catatlah hal-hal yang perlu diperbaiki dari pidato yang disampaikan teman
3. Berikan penilaian dan tanggapan terhadap pembacaan yang dilakukan teman Anda dengan menggunakan tabel penilaian berikut.
Table Penilaian Pidato
Nama: ....
No. Aspek yang Dinilai
Nilai/Skor
1.
2.
3.
4. Penguasaan materi
Intonasi
Ekspresi (gerak-gerik)
Kejelasan lafal
5. Jumlah total nilai
Keterangan: rentang skor antara 0–20 untuk setiap aspek.
Satuan Pendidikan : SMA
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas / Semester : XII/2
Alokasi Waktu :2 x 45menit
I. Standar Kompetensi : Berbicara
Mengungkapkan informasi melalui presentasi program/proposal dan pidato tanpa teks
II. Kompetensi dasar : Berpidato tanpa teks dengan lafal, intonasi, nada, dan sikap yang tepat
III. Indikator :
• Membawakan pidato dengan lafal, intonasi, nada, dan sikap yang tepat
• Mencatat hal-hal yang perlu diperbaiki dari pidato yang disampaikan teman
• Memerbaiki cara berpidato dan isi pidato berdasarkan catatan atau masukan teman
IV. Tujuan Pembelajaran :
• Siswa dapat berpidato dengan lafal, intonasi, nada dan sikap yang tepat.
• Siswa dapat mencatat hal-hal yang perlu diperbaiki dari pidato yang disampaikan oleh teman
• Siswa dapat memperbaiki cara berpidato melalui masukan teman
V. Materi Pembelajaran :
Kamu sering melihat orang berpidato, baik pada acara resmi maupun tidak resmi. Ada beberapa cara orang berpidato, antara lain dengan membaca teks atau tanpa teks.
Kedua cara tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. Di Kelas XI, kamu telah mempelajari pidato. Pada pelajaran ini, kamu akan mempelajari kembali tentang membaca naskah pidato.
Ketika membaca naskah pidato, kamu harus memerhatikan kejelasan intonasi dan ekspresi yang tepat. Membacanya pun harus lancar. Sebaiknya, membaca teks pidato dilakukan seperti berbicara biasa, jangan seperti orang yang sedang membaca. Selain itu, pertimbangkan pula mana yang merupakan kata-kata kunci atau isi pokok pidato. Berpidatolah dengan memberikan penekanan pada kata-kata kunci.
Pada saat berpidato, kamu harus dengan percaya diri dan tampil dengan sikap yang tepat. Di samping itu, cobalah perhatikan orang yang mendengarkan pidato kamu. Arahkan sejenak pandangan mata kepada pendengar. Dengan demikian, pendengar akan merasa dihargai dan seakan-akan diajak terlibat dalam pembicaraan yang kamu sampaikan. Jika pendengar setuju dengan hal yang disampaikan, biasanya mereka akan merespons dengan mengangguk-anggukkan kepala.
Bacalah pidato berikut
Pidato Menteri Negara Lingkungan Hidup
Dalam Pembukaan
Pekan Lingkungan Indonesia 2007
Taman Wisata Mekarsari, 31 Mei 2007
Assalamualaikum wr. wb.,
Salam sejahtera bagi kita semua. Yang saya hormati Bapak Wakil Presiden RI, Para Gubernur atau yang mewakili. Hadirin yang berbahagia, puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena kita dapat berkumpul di taman Wisata Mekarsari dalam acara Pembukaan PekanLingkungan Hidup 2007. Hari ini terasa istimewa karena kita berkumpul di alam terbuka sebagai salah satu acara dari rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang bertemakan “Iklim Berubah, Waspadalah Terhadap Bencana Lingkungan!” Tema ini sangat penting untuk mengingatkan kita bahwa saat ini, sedang terjadi perubahan iklim secara global akibat meningkatnya gas rumah kaca yang berlebihan akibat pembakaran bahan bakar fosil oleh penduduk dunia. Pemanasan global yang diikuti dengan perubahan iklim menyebabkan pola curah hujan berlebihan atau sebaliknya kemarau yang panjang. Akibatnya muncul berbagai bencana, seperti banjir, longsor, peningkatan penyakit epidemik, dan perubahan musim tanam yang membahayakan dan merugikan manusia. Sesuai dengan hasil penelitian para ahli, perubahan iklim juga membawa risiko kepunahan tumbuhan dan hewan sekitar 20–30 persen. Sebagai salah satu negara yang mempunyai keanekaragaman hayati terbesar di dunia, Indonesia
dijuluki Megadiversity country yang mempunyai 12 persen mamalia dunia, 17 persen jenis burung di dunia, peringkat ke-4 primata dunia, dan peringkat dunia ke-6 amfibi. Untuk mengurangi kepunahan keanekaragaman hayati, Indonesia harus mempunyai kebijakan konservasi terhadap semua sumber daya keanekaragaman hayati. Hal itu termasuk sumber daya genetik ternak dan tanaman pertanian. Semua itu guna pemenuhan kebutuhan manusia di masa
mendatang. Partisipasi seluruh pihak, seperti masyarakat umum, dunia usaha, lembaga penelitian, pemerintah dalam upaya menyelamatkan ekosistem sebagai habitat semua spesies sangat diperlukan. Bersama ini, perkenankan saya untuk mengutip apa yang disampaikan Bapak Wakil Presiden Republik Indonesia dalam lawatannya ke Jepang kemarin.Beliau mengatakan bahwa Indonesia mengajak negaranegara dunia untuk bersama-sama menanggulangi permasalahan pemanasan global. Ditambahkan pula bahwa Indonesia akan berupaya maksimal untuk melestarikan hutan dan lahan. Oleh karena hutan Indonesia merupakan paru-paru dunia, harus ada tanggung jawab negara-negara lain dalam melestarikan hutan dan pencemarannya.
Hadirin yang saya hormati,
Sejalan dengan itu, pada acara ini akan dilakukan penanaman pohon khas dari berbagai provinsi di Wahana Puspa Daerah, Taman Wisata Mekarsari oleh Bapak Wakil Presiden Republik Indonesia bersama para Gubernur. Hal ini merupakan upaya konservasi dan edukasi bagi pelajar, pendidik, serta masyarakat umum untuk mengenali keindahan dan kekayaan hayati Indonesia yang khas dan yang terdapat di seluruh pelosok Indonesia. Sebagai wadah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam mengelola lingkungan, Pekan Lingkungan Indonesia ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk menggalang partisipasi masyarakat Indonesia untuk turut serta mengurangi emisi gas rumah kaca untuk. Untuk meminimalkan pemanasan global yang memicu perubahan iklim, diharapkan kita dapat mengubah sikap dan perilaku kita sehari-hari. Hal ini diperlukan karena pada tanggal 3–14 Desember 2007 di Denpasar, Bali, Indonesia akan menjadi tuan rumah pelaksanaan Conference of Parties (COP) United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Pada kesempatan ini, Indonesia akan berperan besar dalam diplomasi internasional untuk membela kepentingan lingkungan nasional dan global. Mari kita tunjukan kepada dunia, bahwa masyarakat dan pemerintah Indonesia telah melakukan adaptasi dan mitigasi sebagai antisipasi perubahan iklim yang dapat membawa bencana lingkungan.
Hadirin yang berbahagia,
Selama Pekan Lingkungan Indonesia 2007, diadakan kegiatan seperti "Ajang Kreasi Siswa di Bidang Lingkungan melalui Teknologi Informasi" yang diikuti oleh sekitar 1000 siswa, "Kemah hijau" yang diikuti oleh 300 siswa, berbagai dialog, seminar, lokakarya, dan pameran lingkungan hidup yang berlangsung di Jakarta Convention Center. Pada tahun ini, pameran lingkungan diikuti oleh 208 organisasi atau lembaga yang terdiri atas berbagai kelompok masyarakat seperti kelompok perempuan, pemuda, penyandang cacat, organisasi masyarakat, dunia usaha, perguruan tinggi dan instansi pemerintah pusat maupun perwakilan berbagai berbagai pemerintah daerah. Pada kesempatan ini pula jalinan kerja sama dengan mitra-mitra lingkungan semakin dieratkan dengan dilakukannya berbagai kesepakatan bersama dengan asosiasi profesi, seperti Persatuan Guru Republik Indonesia dan Ikatan Arsitek Landsekap Indonesia.
Hadirin yang berbahagia,
Terima kasih disampaikan kepada semua pihak baik penyelenggara, peserta kegiatan, peserta pameran maupun pengunjung dari berbagai daerah di seluruh Indonesia yang turut berpartisipasi dalam Pekan Lingkungan Indonesia 2007. Selanjutnya, saya mohon kesediaan Bapak Wakil Presiden Republik Indonesia untuk menanam pohon daerah bersama-sama para Gubernur. Setelah itu, Bapak Wakil Presiden dimohon untuk memberikan sambutan yang menandai diresmikannya Pekan Lingkungan Indonesia 2007. Kemudian, Bapak dimohon untuk melakukan peninjauan kemah hijau dan pameran buah-buahan.
Wassalammualaikum wr. wb.
Mekarsari, 31 Mei 2007
Menteri Negara Lingkungan Hidup,
Ir. Rachmat Witoelar.
Sumber: www.menlh.go.id
VI. Metode/ teknik pembelajaran
Metode : discoveri
Teknik : penugasan dan praktik
VII. Langkah Pembelajaran :
Kegiatan Awal
Waktu Kegiatan Guru
• Guru mengkondisikan keadaan kelas dan melakukan pengecekan kehadiaran siswa
• Guru menjelaskan tujuan pembelajan hari ini
• Guru menyampaikan metode yang digunakan saat membacakan pidato dan tujuan pidato dan hal yang harus diperhatikan dalam membacakan pidato (lafal, intonasi, nada, dan sikap yang tepat)
Kegiatan siswa
• Mencatat tujuan pembelajaran hari ini
• Memperhatikan penjelasan mengenai pembacaan pidato lafal, intonasi, nada, dan sikap yang tepat serta metode yang biasa digunakan dalam pembacaan pidato
20 menit
Kegiatan Inti
Waktu Kegiatan guru
• Setelah memberikan penjelasan mengenai hal-hal yang harus diperhatikan dalam pidato, guru memberikan contoh teks pidato untuk dibaca dan dipahami isinya
• Guru menyuruh siswa mempersiapkan diri untuk membacakan pidato tersebut di depan kelas
• Guru menuliskan tabel pengamatan pembacaan pidato di papan tulis dan menyuruh siswa untuk menuliskannya di buku masing-masing
• Guru menyuruh siswa secara bergiliran untuk membacakan pidato yang sudah dibagikan dengan memperhatikan lafal, intonasi, nada, dan sikap yang tepat)
• Guru memberikan intruksi kepada siswa lain untuk memberikan penilaian kepada temannya yang sedang berpidato dengan menggunakan tabel pengamatan.
Kegiatan siswa
• Siwa secara bergiliran membawakan pidato dengan lafal, intonasi, nada, dan sikap yang tepat
• Siswa lain mencatat hal-hal yang perlu diperbaiki dari pidato yang disampaikan teman dengan menggunakan table pengamatan yang telah diberikan oleh guru
• Siswa memperbaiki cara berpidato dan isi pidato berdasarkan catatan atau masukan teman
60 menit
Kegiatan Akhir
Waktu Kegiatan guru
• Guru memberikan kesempatan kepada siswa yang ingin menanyakan hal yang belum dipahami dari pembelajaran hari ini.
• Meminta siswa menyimpulkan pembelajaran hari ini
• Guru menyimpulkan permasalahan pada pembelajaran hari ini
• Guru menugaskan kepada siswa untuk mencari teks pidato yang akan dibacakan pada pertemuan selanjutnya.
• Guru mengucapkan salam dan keluar dari kelas
Kegiatan siswa
• Mengajukan pertanyaan apabila ada hal yang belum dipahami dari pembelajaran hari ini
• Menyimpulkan pembelajaran pada hari ini.
10 menit
Total waktu 90 menit
VIII. Sumber Pembelajaran
Buku teks. Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia Untuk Kelas X SMA/MA oleh : Adi Abdul Somad, Aminudin, Yudi Irawan. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
IX. Penilaian :
Jenis Tagihan:
• tugas individu
• lisan
Bentuk Instrumen:
• penilaian proses/ pengamatan
• uraian singkat
EVALUASI
1. Bacakankan pidato dengan lafal, intonasi, nada, dan sikap yang tepat
2. Catatlah hal-hal yang perlu diperbaiki dari pidato yang disampaikan teman
3. Berikan penilaian dan tanggapan terhadap pembacaan yang dilakukan teman Anda dengan menggunakan tabel penilaian berikut.
Table Penilaian Pidato
Nama: ....
No. Aspek yang Dinilai
Nilai/Skor
1.
2.
3.
4. Penguasaan materi
Intonasi
Ekspresi (gerak-gerik)
Kejelasan lafal
5. Jumlah total nilai
Keterangan: rentang skor antara 0–20 untuk setiap aspek.
Nama : Siti Fauziah Abdurakhman
Nim : 2108080203
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Satuan Pendidikan : SMA
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/ Semester : X/1
Standar Kompetensi : Menulis. Mengungkapkan pikiran, dan perasaan melalui kegiatan menulis puisi
Kompetensi Dasar : Menulis puisi baru dengan memperhatikan bait, irama, dan rima
Alokasi Waktu : 2x 45 menit
I. TUJUAN PEMBELAJARAN :
Siswa dapat:
• Mengidentifikasi puisi baru berdasarkan bait, irama, dan rima
• Menulis puisi baru dengan memperhatikan bait, irama, dan rima
• Menyunting puisi baru yang telah dibuat oleh teman
II. MATERI PEMBELAJARAN :
Menulis puisi kadang menjadi beban terberat bagi seseorang. Hal ini karena anggapan bahwa puisi terlalu berat dari segi bahasa maupun penafsirannya. Oleh karena itulah, dalam pelajaran ini Anda akan berlatih menulis puisi. Agar puisi yang Anda tulis dapat mewakili ide serta gagasan Anda, sebaiknya ikuti terlebih dahulu teknik-teknik penulisannya. Dengan demikian, diharapkan Anda mampu menulis puisi. Secara umum, tidak ada paksaan bagi seseorang untuk menulis puisi. Setiap orang dapat menulis puisi. Misalnya, jika Anda sedang sedih, jatuh cinta, kecewa, rindu pada Tuhan atau orang terkasih, semuanya dapat diekspresikan dalam bentuk puisi. Anda harus sering berlatih untuk mengolah kata dan rasa. Hal ini secara perlahan dapat dilakukan dengan memahami teknik-teknik menulis puisi. Dalam pelajaran kita kali ini Anda akan belajar menulis puisi.
Bait dalam Puisi
Bait merupakan satuan yang lebih besar dari baris yang ada dalam puisi. Bait merujuk pada kesatuan larik yang berada dalam rangka mendukung satu kesatuan pokok pikiran, terpisah dari kelompok larik (bait) lainnya.
Peranan bait dalam puisi adalah untuk membentuk suatu kesatuan makna dalam rangka mewujudkan pokok pikiran tertentu yang berbeda dengan satuan makna dalam kelompok larik lainnya. Selain itu, bait juga berperanan dalam menekankan atau mementingkan suatu gagasan serta menunjukkan adanya loncatan-loncatan gagasan yang dituangkan penyairnya. Sekarang, dengan jelas Anda dapat mengetahui bahwa bait-bait dalam puisi dapat diibaratkan sebagai suatu paragraf karangan yang paragraf atau baitnya telah mengandung pokok-pokok pikiran tertentu.
3. Unsur Rima dan Irama dalam Puisi
Dari sejumlah unsur struktur puisi yang telah diungkapkan, sekarang kita pusatkan perhatian pada aspek bunyi terlebih dahulu. Jika berbicara tentang masalah bunyi dalam puisi, kita harus memahami konsep tentang hal-hal berikut.
a. Rima,
Menyangkut pengulangan bunyi yang berselang, baik di dalam larik puisi maupun pada akhir larik sajak yang berdekatan.
1. Rima awal :
Sabar, setia selalu (s-s-s)
Bagai banjir gulung gemulung (b-b- g-g)
2. Rima akhir :
Habis kikis (s-s)
Pilu hatiku kau palu (u-u-u-u)
3. Rima berpeluk : abba
Dalam kebun tanah airku
Tumbuh sekuntum bunga teratai
Tersembunyi kembang indah permai
Tidak terlihat orang yang lalu
b. Irama,
Yakni paduan bunyi yang menimbulkan unsur musikalitas, baik berupa alunan tinggi-rendah, panjang-pendek, dan kuat-lemah yang keseluruhannya mampu menumbuhkan kemerduan, kesan suasana, serta nuansa makna tertentu. Timbulnya irama itu, selain akibat penataan rima, juga akibat pemberian aksentuasi dan intonasi maupun tempo sewaktu melaksanakan pembacaan secara oral.
III. METODE, MEDIA, dan SUMBER PEMBELAJARAN
a. Metode pembelajaran
Praktik : siswa menulis puisi karyanya sendiri
b. Media Pembelajaran
Teks puisi baru
Gambar
c. Sumber Pembelajaran
• Teks puisi
• Buku teks. Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia Untuk Kelas X SMA/MA oleh : Adi Abdul, Somad Aminudin, Yudi Irawan. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
IV. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN :
No Waktu Kegiatan siswa Kegiatan guru
1.
5 menit
Menyimak dan merespon guru
Melakukan pengecekan kehadiran siswa
Dan menjelaskan tujuan pembelajaran hari ini
2. 20 menit Menyimak penjelasan guru dan mengajukan pertanyaan mengenai hal yang tidak dipahami Memberikan penjelasan tentang puisi dan struktur pembentuk puisi yaitu bait, rima dan irama.
3. 5 menit membacakan contoh puisi yang diberikan oleh guru di depan kelas Menyimak pembacaan puisi siswa
4. 15 menit Mengidentifikasi puisi yang telah dibacakan teman berdasarkan bait, rima dan irama Membantu, mengarahkan siswa untuk mengidentifikasi puisi
5. 30 menit Menulis puisi baru dengan melihat media gambar yang diberikan guru dengan memperhatikan bait, rima dan irama Mengarahkan siswa untuk menulis puisi karya mereka sendiri dengan memperhatikan bait, rima dan irama
6. 15 Menyunting puisi yang telah dibuat oleh teman Menugaskan kepada siswa untuk menyunting puisi karya teman dengan memperhatikan bait, rima dan irama
7. 5 Menyimak dan mengajukan pertanyaan mengenai hal yang belum dipahami Menyumpulkan pembelajaran hari ini
V. Evaluasi
a. Bentuk dan Teknik Evaluasi
Bentuk tes : tulisan
Teknik penilaian : non tes ( penilaian hasil karya)
b. Soal/ Instrumen:
• Buatlah sebuah puisi berdasarkan gambar yang kamu lihat dengan memperhatikan bait, rima dan irama.
• Berikan penilaian terhadap hasil karya puisi temannu dengan memperhatikan pedoman penilaian
• Suntinglah karya temamu dengan memperhatikan bait, rima irama
c. Pedoman Penilaian
Kompetensi : Menulis
Nama siswa :
No Aspek penilaian Nilai
70 80 90
1. Pemilihan kata
2. Rima puisi
3. Irama puisi
Lampiran puisi
Salju
Karya : Wing Kardjo
Ke manakah pergi
mencari matahari
ketika salju turun
pohon kehilangan daun
Ke manakah jalan
mencari lindungan
ketika tubuh kuyup
dan pintu tertutup
Ke manakah lari
mencari api
ketika bara hati
padam tak berarti
Ke manakah pergi
Ke manakah pergi
selain mencuci diri
Lampiran gambar
Nim : 2108080203
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Satuan Pendidikan : SMA
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/ Semester : X/1
Standar Kompetensi : Menulis. Mengungkapkan pikiran, dan perasaan melalui kegiatan menulis puisi
Kompetensi Dasar : Menulis puisi baru dengan memperhatikan bait, irama, dan rima
Alokasi Waktu : 2x 45 menit
I. TUJUAN PEMBELAJARAN :
Siswa dapat:
• Mengidentifikasi puisi baru berdasarkan bait, irama, dan rima
• Menulis puisi baru dengan memperhatikan bait, irama, dan rima
• Menyunting puisi baru yang telah dibuat oleh teman
II. MATERI PEMBELAJARAN :
Menulis puisi kadang menjadi beban terberat bagi seseorang. Hal ini karena anggapan bahwa puisi terlalu berat dari segi bahasa maupun penafsirannya. Oleh karena itulah, dalam pelajaran ini Anda akan berlatih menulis puisi. Agar puisi yang Anda tulis dapat mewakili ide serta gagasan Anda, sebaiknya ikuti terlebih dahulu teknik-teknik penulisannya. Dengan demikian, diharapkan Anda mampu menulis puisi. Secara umum, tidak ada paksaan bagi seseorang untuk menulis puisi. Setiap orang dapat menulis puisi. Misalnya, jika Anda sedang sedih, jatuh cinta, kecewa, rindu pada Tuhan atau orang terkasih, semuanya dapat diekspresikan dalam bentuk puisi. Anda harus sering berlatih untuk mengolah kata dan rasa. Hal ini secara perlahan dapat dilakukan dengan memahami teknik-teknik menulis puisi. Dalam pelajaran kita kali ini Anda akan belajar menulis puisi.
Bait dalam Puisi
Bait merupakan satuan yang lebih besar dari baris yang ada dalam puisi. Bait merujuk pada kesatuan larik yang berada dalam rangka mendukung satu kesatuan pokok pikiran, terpisah dari kelompok larik (bait) lainnya.
Peranan bait dalam puisi adalah untuk membentuk suatu kesatuan makna dalam rangka mewujudkan pokok pikiran tertentu yang berbeda dengan satuan makna dalam kelompok larik lainnya. Selain itu, bait juga berperanan dalam menekankan atau mementingkan suatu gagasan serta menunjukkan adanya loncatan-loncatan gagasan yang dituangkan penyairnya. Sekarang, dengan jelas Anda dapat mengetahui bahwa bait-bait dalam puisi dapat diibaratkan sebagai suatu paragraf karangan yang paragraf atau baitnya telah mengandung pokok-pokok pikiran tertentu.
3. Unsur Rima dan Irama dalam Puisi
Dari sejumlah unsur struktur puisi yang telah diungkapkan, sekarang kita pusatkan perhatian pada aspek bunyi terlebih dahulu. Jika berbicara tentang masalah bunyi dalam puisi, kita harus memahami konsep tentang hal-hal berikut.
a. Rima,
Menyangkut pengulangan bunyi yang berselang, baik di dalam larik puisi maupun pada akhir larik sajak yang berdekatan.
1. Rima awal :
Sabar, setia selalu (s-s-s)
Bagai banjir gulung gemulung (b-b- g-g)
2. Rima akhir :
Habis kikis (s-s)
Pilu hatiku kau palu (u-u-u-u)
3. Rima berpeluk : abba
Dalam kebun tanah airku
Tumbuh sekuntum bunga teratai
Tersembunyi kembang indah permai
Tidak terlihat orang yang lalu
b. Irama,
Yakni paduan bunyi yang menimbulkan unsur musikalitas, baik berupa alunan tinggi-rendah, panjang-pendek, dan kuat-lemah yang keseluruhannya mampu menumbuhkan kemerduan, kesan suasana, serta nuansa makna tertentu. Timbulnya irama itu, selain akibat penataan rima, juga akibat pemberian aksentuasi dan intonasi maupun tempo sewaktu melaksanakan pembacaan secara oral.
III. METODE, MEDIA, dan SUMBER PEMBELAJARAN
a. Metode pembelajaran
Praktik : siswa menulis puisi karyanya sendiri
b. Media Pembelajaran
Teks puisi baru
Gambar
c. Sumber Pembelajaran
• Teks puisi
• Buku teks. Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia Untuk Kelas X SMA/MA oleh : Adi Abdul, Somad Aminudin, Yudi Irawan. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
IV. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN :
No Waktu Kegiatan siswa Kegiatan guru
1.
5 menit
Menyimak dan merespon guru
Melakukan pengecekan kehadiran siswa
Dan menjelaskan tujuan pembelajaran hari ini
2. 20 menit Menyimak penjelasan guru dan mengajukan pertanyaan mengenai hal yang tidak dipahami Memberikan penjelasan tentang puisi dan struktur pembentuk puisi yaitu bait, rima dan irama.
3. 5 menit membacakan contoh puisi yang diberikan oleh guru di depan kelas Menyimak pembacaan puisi siswa
4. 15 menit Mengidentifikasi puisi yang telah dibacakan teman berdasarkan bait, rima dan irama Membantu, mengarahkan siswa untuk mengidentifikasi puisi
5. 30 menit Menulis puisi baru dengan melihat media gambar yang diberikan guru dengan memperhatikan bait, rima dan irama Mengarahkan siswa untuk menulis puisi karya mereka sendiri dengan memperhatikan bait, rima dan irama
6. 15 Menyunting puisi yang telah dibuat oleh teman Menugaskan kepada siswa untuk menyunting puisi karya teman dengan memperhatikan bait, rima dan irama
7. 5 Menyimak dan mengajukan pertanyaan mengenai hal yang belum dipahami Menyumpulkan pembelajaran hari ini
V. Evaluasi
a. Bentuk dan Teknik Evaluasi
Bentuk tes : tulisan
Teknik penilaian : non tes ( penilaian hasil karya)
b. Soal/ Instrumen:
• Buatlah sebuah puisi berdasarkan gambar yang kamu lihat dengan memperhatikan bait, rima dan irama.
• Berikan penilaian terhadap hasil karya puisi temannu dengan memperhatikan pedoman penilaian
• Suntinglah karya temamu dengan memperhatikan bait, rima irama
c. Pedoman Penilaian
Kompetensi : Menulis
Nama siswa :
No Aspek penilaian Nilai
70 80 90
1. Pemilihan kata
2. Rima puisi
3. Irama puisi
Lampiran puisi
Salju
Karya : Wing Kardjo
Ke manakah pergi
mencari matahari
ketika salju turun
pohon kehilangan daun
Ke manakah jalan
mencari lindungan
ketika tubuh kuyup
dan pintu tertutup
Ke manakah lari
mencari api
ketika bara hati
padam tak berarti
Ke manakah pergi
Ke manakah pergi
selain mencuci diri
Lampiran gambar
MODEL PEMBELAJARAN
SATUAN PENDIDIKAN : SMA
MATA PELAJARAN : Bahasa Indonesia
KELAS : X
SEMESTER : 1
ALOKASI WAKTU : 2x 45 menit
I. STANDAR KOMPETENSI :
Mendengarkan : Memahami siaran atau cerita yang disampaikan secara langsung /tidak langsung
II. KOMPETENSI DASAR :
Mengidentifikasi unsur sastra (intrinsik dan ekstrinsik) suatu cerita yang disampaikan secara langsung atau melalui rekam¬an
III. INDIKATOR :
1. Menyampaikan unsur-unsur ekstrinsik (nilai moral,kebudayaan, dll.).
2. Menyampaikan unsur-unsur intrinsik ( tema, alur, penokohan, latar, amanat, dll.).
3. Menanggapi (setuju atau tidak setuju) unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik yang disampaikan teman.
IV. TUJUAN PEMBELAJARAN :
Siswa dapat:
• Menyampaikan unsur-unsur intrinsik ( tema, alur, penokohan, latar, amanat, dll.). yang terkandung di dalam cerita
• Menyampaikan unsur-unsur ekstrinsik (nilai moral,kebudayaan, agama, dll.) yang terkandung di dalam cerita
• Menanggapi (setuju atau tidak setuju) unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik yang disampaikan teman dengan menggunakan bahasa yang santun dan efektif.
V. MATERI PEMBELAJARAN :
.
Unsur intrinsik adalah unsur dalam yang membentuk penciptaan karya sastra. Unsur ini berupa tema, amanat, latar, alur, penokohan,
Unsur ekstrinsik (agama, politik, sejarah, budaya) merupakan bagian luar dari karya cerpen yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan isi cerita. Namun, sebuah karya dapat mencerminkan kapan dan bagaimana situasi karya itu dibuat. Dalam hal ini, karya intrinsik berhubungan dengan kondisi pengarang, situasi sosial waktu karya dibuat, bagaimana keadaan penerbit, sampai bentuk buku cerpen atau naskah tersebut.
Robohnya Surau Kami
Karangan A.A Navis
Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kanan,simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.
Di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk disana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek.
Sebagai penajaga surau, Kakek tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemungutan ikan mas dari kolam itu. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkan fitrah Idul Fitri kepadanya. Tapi sebagai garin ia tak begitu dikenal. Ia lebih dikenal sebagai pengasah pisau. Karena ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. Orang-orang suka minta tolong kepadanya, sedang ia tak pernah minta imbalan apa-apa. Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting, memberinya sambal sebagai imbalan. Orang laki-laki yang minta tolong, memberinya imbalan rokok, kadang-kadang uang. Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasih dan sedikit senyum.
Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggallah surau itu tanpa penjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan segala apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti papan dinding atau lantai di malam hari.
Jika Tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya. Secepat anak-anak berlari di dalamnya, secepat perempuan mencopoti pekayuannya. Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak di jaga lagi.
Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Beginilah kisahnya.
Sekali hari aku datang pula mengupah Kakek. Biasanya Kakek gembira menerimaku,karena aku suka memberinya uang. Tapi sekali ini Kakek begitu muram. Di sudut benar ia duduk dengan lututnya menegak menopang tangan dan dagunya. Pandangannya sayu ke depan, seolah-olah ada sesuatu yang yang mengamuk pikirannya. Sebuah belek susu yang berisi minyak kelapa, sebuah asahan halus, kulit sol panjang, dan pisau cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek. Tidak pernah aku melihat Kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti saat itu. Kemudian aku duduk disampingnya dan aku jamah pisau itu. Dan aku tanyaKakek,
"Pisau siapa, Kek?
""Ajo Sidi."
"Ajo Sidi?"
Kakek tak menyahut. Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Dan aku ingin ketemu dia lagi. Aku senang mendengar bualannya. AjoSidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari.Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku-pelaku yang diceritakannya menjadi model orang untuk diejek dan ceritanya menjadi pameo akhirnya. Ada-ada saja orang-orang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelaku-pelaku ceritanya. Ketika sekali ia menceritakan bagaimana sifat seekor katak,dan kebetulan ada pula seorang yang ketagihan menjadi pemimpin berkelakuan seperti katak itu, maka untuk selanjutnya pimpinan tersebut kami sebut pimpinan katak.Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatang Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan Kakek? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya Kakek lagi.
"Apa ceritanya, Kek?"
"Siapa?"
"Ajo Sidi."
"Kurang ajar dia," Kakek menjawab.
"Kenapa?"
"Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini, menggorok tenggorokannya."
"Kakek marah?"
"Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam.Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadatku rusak karenanya. Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan. Sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepada-Nya.Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal."
Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Aku tanya lagi Kakek,
"Bagaimana katanya, Kek?"
Tapi Kakek diam saja. Berat hatinya bercerita barangkali. Karena aku telah berulang-ulang bertanya, lalu ia yang bertanya padaku,
"Kau kenal padaku, bukan? Sedari kaukecil aku sudah disini. Sedari mudaku, bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua,bukan? Terkutukkah perbuatanku? Dikutuki Tuhankah semua pekerjaanku?"
Tapi aku tak perlu menjawabnya lagi. Sebab aku tahu, kalau Kakek sudah membuka mulutnya, dia takkan diam lagi. Aku biarkan Kakek dengan pertanyaannya sendiri.
"Sedari muda aku di sini, bukan? Tak kuingat punya isteri, punya anak, punya keluarga seperti orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah Subhanahu Wataala. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat seekor enggan aku membunuhnya. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Umpan neraka. Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan, sangkamu? Akan dikutukinya aku kalau selama hidupku aku mengabdi kepada-Nya? Tak kupikirkan hari esokku, karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih dan penyayang kepada umat nya yang tawakal. Aku bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul beduk membangunkan manusia dari tidurnya, supaya bersujud kepada-Nya. Aku sembahyang setiap waktu. Aku puji-puji Dia. Aku baca Kitab-Nya. Alhamdulillah kataku bila aku menerima karunia-Nya.Astagfirullah kataku bila aku terkejut. Masya Allah kataku bila aku kagum.Apa salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk."
Ketika Kakek terdiam agak lama, aku menyelakan tanyaku, "Ia katakan Kakek begitu, Kek?"
"Ia tak mengatakan aku terkutuk. Tapi begitulah kira-kiranya."
Dan aku melihat mata Kakek berlinang. Aku jadi belas kepadanya. Dalam hatiku aku mengumpati Ajo Sidi yang begitu memukuli hati Kakek. Dan ingin tahuku menjadikan aku nyinyir bertanya. Dan akhirnya Kakek bercerita lagi.
………………………………………………………………………………………….
Sumber : http://cerpen.net
Unsur-Unsur Intrinsik
Tema
Pengarang yang sedang menulis cerita pasti akan menuangkan gagasannya. Tanpa gagasan pasti dia tidak bisa menulis cerita. Gagasan yang mendasari cerita yang dibuatnya itulah yang disebut tema dan gagasan seperti ini selalu berupa pokok bahasan.
Tema atau pokok persoalan cerpen Robohnya Surau Kami terletak pada persoalan batin kakek Garin setelah mendengar bualan Ajo Sidi.
tema cerpen ini adalah seorang kepala keluarga lalai itu sehingga masalah kelalaiannya itu akhirnya mampu membunuh dirinya.
Amanat
Amanat merupakan keinginan pengarang untuk menyampaikan pesan atau nasihat kepada pembacanya.
Amanat yang terdapat dalam cerpen Robohnya Surau Kami adalah
(a) Jangan cepat marah kalau ada orang yang mengejek atau menasehati kita karena ada perbuatan kita yang kurang layak di hadapan orang lain.
(b) Jangan cepat bangga akan perbuatan baik yang kita lakukan karena hal ini bisa saja baik di hadapan manusia tetapi tetap kurang baik di hadapan Tuhan itu.
(c) Kita jangan terpesona oleh gelar dan nama besar sebab hal itu akan mencelakakan diri pemakainya.
Latar/ setting
Dalam suatu cerita latar dibentuk melalui segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya suatu peristiwa. Latar ini ada tiga macam, yaitu: latar tempat; latar waktu; dan latar sosial.
Latar Tempat
Latar tempat yang ada dalam cerpen ini jelas disebutkan oleh pengarangnya, seperti kota, dekat pasar, di surau,
Latar Waktu
Latar jenis ini, yang terdapat dalam cerpen ini ada yang bersamaan dengan latar tempat, seperti yang sudah dipaparkan di atas pada latar.
Latar Sosial
Latar sosial ini menunjukkan bahwa salah satu tokoh dalam cerita ini termasuk kedalam kelompok sosial pekerja. Datanya seperti ini.
Alur (plot)
Alur adalah peristiwa-peristiwa yang diceritakan dengan panjang lebar dalam suatu rangkaian tertentu dan memiliki struktur.
Penokohan
Yang dimaksud dengan penokohan yakni bagaimana pengarang menampilkan perilaku tokoh-tokohnya berikut wataknya.
a. Tokoh Aku
b. Ajo Sidi
c. Si Kakek
d. Haji Saleh
Unsur Ekstrinsik
Nilai Moral
Nilai moral yang berkembang dalam masyarakat pada waktu itu masing sangat menjunjung nilai-nilai moral tradisi dan kebersamaan. Masyarakat lebih sering bergaul dengan sesama dengan cara berkumpul di surau. Dan rasa kebersamaan yang terajut dalam masyarakat masih sangat erat.
Kebudayaan
Latar belakang budaya yang ditampilkan pun masih terasa umum. Jadi, siapa pun (baik yang beragama Islam, kristen, Hindu,maupun Budha) bisa dengan mudah memahaminya dan tidak menimbulkan pertentangan yang mendasar.
VI. METODE dan TEKNIK PEMBELAJARAN :
Metode :Inkuiri
Teknik : ceramah dan penugasan
VII. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN :
Kegiatan Awal
Waktu Kegiatan Guru
• Masuk ke kelas dan mengucapkan salam
• Guru mengkondisikan keadaan kelas dan melakukan pengecekan kehadiaran siswa
• Guru menjelaskan tujuan pembelajan hari ini
• Guru menjelaskan unsur intrinsik ( tema, alur, penokohan, latar, amanat, dll.). yang terkandung di dalam cerita pendek dan unsur-unsur ekstrinsik (nilai moral,kebudayaan, agama, dll.)
Kegiatan siswa
• Mencatat tujuan pembelajaran hari ini
• Mendengarkan penjelasan guru tentang unsur intrinsik ( tema, alur, penokohan, latar, amanat, dll.). yang terkandung di dalam cerita pendek dan unsur-unsur ekstrinsik (nilai moral,kebudayaan, agama, dll.)
20menit
Kegiatan Inti
Waktu Kegiatan guru
• Guru membacakan certa pendek
• Guru membimbing siswa untuk menyimak dengan baik cerita pendek
• Guru membimbing siswa untuk mengidentifikasi unsur intrinsik ( tema, alur, penokohan, latar, amanat, dll.). yang terkandung di dalam cerita pendek dan unsur-unsur ekstrinsik (nilai moral,kebudayaan, agama, dll.)
• Guru meminta bantuan seorang siswa untuk membacakan sebuah cerita pendek
• Guru memberikan intruksi kepada siswa lain untuk menyimak cerita pendek yang dibacakan temannya
• Guru memberikan tugas kepada siswa untuk mengidentifikasi unsur intrinsik ( tema, alur, penokohan, latar, amanat, dll.). yang terkandung di dalam cerita pendek dan unsur-unsur ekstrinsik (nilai moral,kebudayaan, agama, dll.) dan menanggapi unsur intrinsik dan ektrinsik yang disampaikan temannya.
Kegiatan siswa
• Siwa menyimak isi cerita pendek yang dibacakan.
• Siswa mengidentifikasi unsur intrinsik ( tema, alur, penokohan, latar, amanat, dll.). yang terkandung di dalam cerita pendek dan unsur-unsur ekstrinsik (nilai moral,kebudayaan, agama, dll.)
• Siswa mendengarkan cerita pendek yang dibacakan temannya
• Siswa mengidentifikasi unsur intrinsik ( tema, alur, penokohan, latar, amanat, dll.). yang terkandung di dalam cerita pendek dan unsur-unsur ekstrinsik (nilai moral,kebudayaan, agama, dll.)
• Siswa menanggapi unsur intrinsik dan ektrinsik yang disampaikan temannya
60 menit
Kegiatan Akhir
Waktu Kegiatan guru
• Guru memberikan kesempatan kepada siswa yang ingin menanyakan hal yang belum dipahami dari pembelajaran hari ini.
• Meminta siswa menyimpulkan pembelajaran hari ini
• Guru menyimpulkan permasalahan pada pembelajaran hari ini
• Guru mengucapkan salam dan keluar dari kelas
Kegiatan siswa
• Mengajukan pertanyaan apabila ada hal yang belum dipahami dari pembelajaran hari ini
• Menyimpulkan pembelajaran pada hari ini.
10 menit
Total waktu 90 menit
VIII. SUMBER PEMBELAJARAN
• Internet : http://cerpen.net
• Buku teks. Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia Untuk Kelas X SMA/MA oleh : Adi Abdul, Somad Aminudin, Yudi Irawan. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
IX. PENILAIAN :
Jenis Tagihan:
tugas individu
ulangan
Bentuk Instrumen:
uraian bebas
jawaban singkat
EVALUASI
Peradilan Rakyat
Putu Wijaya
Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.
"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."
Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.
"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"
Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?"
"Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung
tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."
Pengacara muda itu tersenyum.
"Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."
"Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."
Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.
"Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."
Pengacara tua itu meringis.
"Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan."
"Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!"
Pengacara tua itu tertawa.
"Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua.
Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf.
"Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan," sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."
Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.
"Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog."
"Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya."
"Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.
Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.
Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini."
Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.
"Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya."
"Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba.
Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.
"Bagaimana Anda tahu?"
Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu."
Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.
"Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya."
Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
"Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?"
"Antara lain."
"Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku."
Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.
"Jadi langkahku sudah benar?"
Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.
"Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?"
"Tidak! Sama sekali tidak!"
"Bukan juga karena uang?!"
"Bukan!"
"Lalu karena apa?"
Pengacara muda itu tersenyum.
"Karena aku akan membelanya."
"Supaya dia menang?"
"Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku."
Pengacara tua termenung.
"Apa jawabanku salah?"
Orang tua itu menggeleng.
"Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang."
"Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan."
"Tapi kamu akan menang."
"Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang."
"Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini."
Pengacara muda itu tertawa kecil.
"Itu pujian atau peringatan?"
"Pujian."
"Asal Anda jujur saja."
"Aku jujur."
"Betul?"
"Betul!"
Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi.
"Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?"
"Bukan! Kenapa mesti takut?!"
"Mereka tidak mengancam kamu?"
"Mengacam bagaimana?"
"Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?"
"Tidak."
Pengacara tua itu terkejut.
"Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?"
"Tidak."
"Wah! Itu tidak profesional!"
Pengacara muda itu tertawa.
"Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!"
"Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?"
Pengacara muda itu terdiam.
"Bagaimana kalau dia sampai menang?"
"Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!"
"Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?"
Pengacara muda itu tak menjawab.
"Berarti ya!"
"Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"
Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.
"Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok."
"Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut."
"Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?"
"Betul."
"Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.
Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional."
Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan.
"Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia."
Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.
"Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional."
"Tapi..."
Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
"Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam."
Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.
"Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai."
Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.
Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.
"Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?"
Soal
1. Jelaskan unsur ekstrinsik dari cerpen di atas
2. Jelaskan unsur-unsur intrinsik tema, alur, penokohan, latar, amanat,
3. Tanggapilah (setuju atau tidak setuju) unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik yang disampaikan teman.
Jawaban
1. Unsur luar (ekstrinsik) yang kental dan terdapat dalamcerita tersebut adalah keadaan sosial yang ada saat cerpen tersebut dibuat. Kita dapat memahami keadaan sebuah negeri yang masih banyak kasus pelanggaran hukum. Selain itu, ada juga oknum-oknum penegak hukum yang malah melakukan pelanggaran.
2. Dalam cerita pendek tersebut, kita dapat menganalisis unsur intrinsiknya.
a. Tema
Yang terdapat dalam cerpen adalah sosial dimana membahas hubungan antar manusia yaitu ayah dan anak dalam pemberantasan korupsi.
b. setting
Latar yang ada dalam cerpen tersebut adalah suasana di rumah sang Pengacara Tua. Anda dapat menentukan latar tempat yang sesuai dengan penafsiran Anda sendiri. Latar sosial dalam cerita ini menyangkut keadaan negeri yang carut marut dalam hal keadilan, yaitu korupsi yang merajalela.
c. Alur
Dalam cerita adalah alur maju. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan kedatangan sang Pengacara Muda kepada Pengacara Tua (ayahnya). Selanjutnya timbul dialog yang terus maju dan timbul konflik antarpemikiran dua generasi.
d. Tokoh
Tokoh yang ada dalam cerita adalah Pengacara Tua dan Pengacara Muda. Pada awal cerita disebutkan bahwa keduanya memilki hubungan ayah-anak.
2. Selanjutnya, kita dapat memahami watak setiap tokoh sesuai dengan apa yang mereka bicarakan.
• Pengacara Tua : Memiliki sikap yang mau membela keadilan dan kebenaran sesuai dengan hukum. Hal ini dibuktikan dengan kutipan berikut.
"... Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuripencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."
• Pengacara Muda: Ia memiliki watak yang mau belajar dan berani membela kebenaran sesuai dengan apa yang telah diwariskan oleh ayahnya tersebut. Hal ini dibuktikan dengan apa yang dia ucapkan:
"Aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."
e. Amanat yang terdapat dalam cerpen tersebut, antara lain bahwa
jangan ada kesenjangan pemikiran antara kaum tua dan kaum muda.
SATUAN PENDIDIKAN : SMA
MATA PELAJARAN : Bahasa Indonesia
KELAS : X
SEMESTER : 1
ALOKASI WAKTU : 2x 45 menit
I. STANDAR KOMPETENSI :
Mendengarkan : Memahami siaran atau cerita yang disampaikan secara langsung /tidak langsung
II. KOMPETENSI DASAR :
Mengidentifikasi unsur sastra (intrinsik dan ekstrinsik) suatu cerita yang disampaikan secara langsung atau melalui rekam¬an
III. INDIKATOR :
1. Menyampaikan unsur-unsur ekstrinsik (nilai moral,kebudayaan, dll.).
2. Menyampaikan unsur-unsur intrinsik ( tema, alur, penokohan, latar, amanat, dll.).
3. Menanggapi (setuju atau tidak setuju) unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik yang disampaikan teman.
IV. TUJUAN PEMBELAJARAN :
Siswa dapat:
• Menyampaikan unsur-unsur intrinsik ( tema, alur, penokohan, latar, amanat, dll.). yang terkandung di dalam cerita
• Menyampaikan unsur-unsur ekstrinsik (nilai moral,kebudayaan, agama, dll.) yang terkandung di dalam cerita
• Menanggapi (setuju atau tidak setuju) unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik yang disampaikan teman dengan menggunakan bahasa yang santun dan efektif.
V. MATERI PEMBELAJARAN :
.
Unsur intrinsik adalah unsur dalam yang membentuk penciptaan karya sastra. Unsur ini berupa tema, amanat, latar, alur, penokohan,
Unsur ekstrinsik (agama, politik, sejarah, budaya) merupakan bagian luar dari karya cerpen yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan isi cerita. Namun, sebuah karya dapat mencerminkan kapan dan bagaimana situasi karya itu dibuat. Dalam hal ini, karya intrinsik berhubungan dengan kondisi pengarang, situasi sosial waktu karya dibuat, bagaimana keadaan penerbit, sampai bentuk buku cerpen atau naskah tersebut.
Robohnya Surau Kami
Karangan A.A Navis
Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kanan,simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.
Di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk disana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek.
Sebagai penajaga surau, Kakek tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemungutan ikan mas dari kolam itu. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkan fitrah Idul Fitri kepadanya. Tapi sebagai garin ia tak begitu dikenal. Ia lebih dikenal sebagai pengasah pisau. Karena ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. Orang-orang suka minta tolong kepadanya, sedang ia tak pernah minta imbalan apa-apa. Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting, memberinya sambal sebagai imbalan. Orang laki-laki yang minta tolong, memberinya imbalan rokok, kadang-kadang uang. Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasih dan sedikit senyum.
Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggallah surau itu tanpa penjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan segala apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti papan dinding atau lantai di malam hari.
Jika Tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya. Secepat anak-anak berlari di dalamnya, secepat perempuan mencopoti pekayuannya. Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak di jaga lagi.
Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Beginilah kisahnya.
Sekali hari aku datang pula mengupah Kakek. Biasanya Kakek gembira menerimaku,karena aku suka memberinya uang. Tapi sekali ini Kakek begitu muram. Di sudut benar ia duduk dengan lututnya menegak menopang tangan dan dagunya. Pandangannya sayu ke depan, seolah-olah ada sesuatu yang yang mengamuk pikirannya. Sebuah belek susu yang berisi minyak kelapa, sebuah asahan halus, kulit sol panjang, dan pisau cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek. Tidak pernah aku melihat Kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti saat itu. Kemudian aku duduk disampingnya dan aku jamah pisau itu. Dan aku tanyaKakek,
"Pisau siapa, Kek?
""Ajo Sidi."
"Ajo Sidi?"
Kakek tak menyahut. Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Dan aku ingin ketemu dia lagi. Aku senang mendengar bualannya. AjoSidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari.Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku-pelaku yang diceritakannya menjadi model orang untuk diejek dan ceritanya menjadi pameo akhirnya. Ada-ada saja orang-orang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelaku-pelaku ceritanya. Ketika sekali ia menceritakan bagaimana sifat seekor katak,dan kebetulan ada pula seorang yang ketagihan menjadi pemimpin berkelakuan seperti katak itu, maka untuk selanjutnya pimpinan tersebut kami sebut pimpinan katak.Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatang Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan Kakek? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya Kakek lagi.
"Apa ceritanya, Kek?"
"Siapa?"
"Ajo Sidi."
"Kurang ajar dia," Kakek menjawab.
"Kenapa?"
"Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini, menggorok tenggorokannya."
"Kakek marah?"
"Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam.Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadatku rusak karenanya. Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan. Sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepada-Nya.Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal."
Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Aku tanya lagi Kakek,
"Bagaimana katanya, Kek?"
Tapi Kakek diam saja. Berat hatinya bercerita barangkali. Karena aku telah berulang-ulang bertanya, lalu ia yang bertanya padaku,
"Kau kenal padaku, bukan? Sedari kaukecil aku sudah disini. Sedari mudaku, bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua,bukan? Terkutukkah perbuatanku? Dikutuki Tuhankah semua pekerjaanku?"
Tapi aku tak perlu menjawabnya lagi. Sebab aku tahu, kalau Kakek sudah membuka mulutnya, dia takkan diam lagi. Aku biarkan Kakek dengan pertanyaannya sendiri.
"Sedari muda aku di sini, bukan? Tak kuingat punya isteri, punya anak, punya keluarga seperti orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah Subhanahu Wataala. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat seekor enggan aku membunuhnya. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Umpan neraka. Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan, sangkamu? Akan dikutukinya aku kalau selama hidupku aku mengabdi kepada-Nya? Tak kupikirkan hari esokku, karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih dan penyayang kepada umat nya yang tawakal. Aku bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul beduk membangunkan manusia dari tidurnya, supaya bersujud kepada-Nya. Aku sembahyang setiap waktu. Aku puji-puji Dia. Aku baca Kitab-Nya. Alhamdulillah kataku bila aku menerima karunia-Nya.Astagfirullah kataku bila aku terkejut. Masya Allah kataku bila aku kagum.Apa salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk."
Ketika Kakek terdiam agak lama, aku menyelakan tanyaku, "Ia katakan Kakek begitu, Kek?"
"Ia tak mengatakan aku terkutuk. Tapi begitulah kira-kiranya."
Dan aku melihat mata Kakek berlinang. Aku jadi belas kepadanya. Dalam hatiku aku mengumpati Ajo Sidi yang begitu memukuli hati Kakek. Dan ingin tahuku menjadikan aku nyinyir bertanya. Dan akhirnya Kakek bercerita lagi.
………………………………………………………………………………………….
Sumber : http://cerpen.net
Unsur-Unsur Intrinsik
Tema
Pengarang yang sedang menulis cerita pasti akan menuangkan gagasannya. Tanpa gagasan pasti dia tidak bisa menulis cerita. Gagasan yang mendasari cerita yang dibuatnya itulah yang disebut tema dan gagasan seperti ini selalu berupa pokok bahasan.
Tema atau pokok persoalan cerpen Robohnya Surau Kami terletak pada persoalan batin kakek Garin setelah mendengar bualan Ajo Sidi.
tema cerpen ini adalah seorang kepala keluarga lalai itu sehingga masalah kelalaiannya itu akhirnya mampu membunuh dirinya.
Amanat
Amanat merupakan keinginan pengarang untuk menyampaikan pesan atau nasihat kepada pembacanya.
Amanat yang terdapat dalam cerpen Robohnya Surau Kami adalah
(a) Jangan cepat marah kalau ada orang yang mengejek atau menasehati kita karena ada perbuatan kita yang kurang layak di hadapan orang lain.
(b) Jangan cepat bangga akan perbuatan baik yang kita lakukan karena hal ini bisa saja baik di hadapan manusia tetapi tetap kurang baik di hadapan Tuhan itu.
(c) Kita jangan terpesona oleh gelar dan nama besar sebab hal itu akan mencelakakan diri pemakainya.
Latar/ setting
Dalam suatu cerita latar dibentuk melalui segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya suatu peristiwa. Latar ini ada tiga macam, yaitu: latar tempat; latar waktu; dan latar sosial.
Latar Tempat
Latar tempat yang ada dalam cerpen ini jelas disebutkan oleh pengarangnya, seperti kota, dekat pasar, di surau,
Latar Waktu
Latar jenis ini, yang terdapat dalam cerpen ini ada yang bersamaan dengan latar tempat, seperti yang sudah dipaparkan di atas pada latar.
Latar Sosial
Latar sosial ini menunjukkan bahwa salah satu tokoh dalam cerita ini termasuk kedalam kelompok sosial pekerja. Datanya seperti ini.
Alur (plot)
Alur adalah peristiwa-peristiwa yang diceritakan dengan panjang lebar dalam suatu rangkaian tertentu dan memiliki struktur.
Penokohan
Yang dimaksud dengan penokohan yakni bagaimana pengarang menampilkan perilaku tokoh-tokohnya berikut wataknya.
a. Tokoh Aku
b. Ajo Sidi
c. Si Kakek
d. Haji Saleh
Unsur Ekstrinsik
Nilai Moral
Nilai moral yang berkembang dalam masyarakat pada waktu itu masing sangat menjunjung nilai-nilai moral tradisi dan kebersamaan. Masyarakat lebih sering bergaul dengan sesama dengan cara berkumpul di surau. Dan rasa kebersamaan yang terajut dalam masyarakat masih sangat erat.
Kebudayaan
Latar belakang budaya yang ditampilkan pun masih terasa umum. Jadi, siapa pun (baik yang beragama Islam, kristen, Hindu,maupun Budha) bisa dengan mudah memahaminya dan tidak menimbulkan pertentangan yang mendasar.
VI. METODE dan TEKNIK PEMBELAJARAN :
Metode :Inkuiri
Teknik : ceramah dan penugasan
VII. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN :
Kegiatan Awal
Waktu Kegiatan Guru
• Masuk ke kelas dan mengucapkan salam
• Guru mengkondisikan keadaan kelas dan melakukan pengecekan kehadiaran siswa
• Guru menjelaskan tujuan pembelajan hari ini
• Guru menjelaskan unsur intrinsik ( tema, alur, penokohan, latar, amanat, dll.). yang terkandung di dalam cerita pendek dan unsur-unsur ekstrinsik (nilai moral,kebudayaan, agama, dll.)
Kegiatan siswa
• Mencatat tujuan pembelajaran hari ini
• Mendengarkan penjelasan guru tentang unsur intrinsik ( tema, alur, penokohan, latar, amanat, dll.). yang terkandung di dalam cerita pendek dan unsur-unsur ekstrinsik (nilai moral,kebudayaan, agama, dll.)
20menit
Kegiatan Inti
Waktu Kegiatan guru
• Guru membacakan certa pendek
• Guru membimbing siswa untuk menyimak dengan baik cerita pendek
• Guru membimbing siswa untuk mengidentifikasi unsur intrinsik ( tema, alur, penokohan, latar, amanat, dll.). yang terkandung di dalam cerita pendek dan unsur-unsur ekstrinsik (nilai moral,kebudayaan, agama, dll.)
• Guru meminta bantuan seorang siswa untuk membacakan sebuah cerita pendek
• Guru memberikan intruksi kepada siswa lain untuk menyimak cerita pendek yang dibacakan temannya
• Guru memberikan tugas kepada siswa untuk mengidentifikasi unsur intrinsik ( tema, alur, penokohan, latar, amanat, dll.). yang terkandung di dalam cerita pendek dan unsur-unsur ekstrinsik (nilai moral,kebudayaan, agama, dll.) dan menanggapi unsur intrinsik dan ektrinsik yang disampaikan temannya.
Kegiatan siswa
• Siwa menyimak isi cerita pendek yang dibacakan.
• Siswa mengidentifikasi unsur intrinsik ( tema, alur, penokohan, latar, amanat, dll.). yang terkandung di dalam cerita pendek dan unsur-unsur ekstrinsik (nilai moral,kebudayaan, agama, dll.)
• Siswa mendengarkan cerita pendek yang dibacakan temannya
• Siswa mengidentifikasi unsur intrinsik ( tema, alur, penokohan, latar, amanat, dll.). yang terkandung di dalam cerita pendek dan unsur-unsur ekstrinsik (nilai moral,kebudayaan, agama, dll.)
• Siswa menanggapi unsur intrinsik dan ektrinsik yang disampaikan temannya
60 menit
Kegiatan Akhir
Waktu Kegiatan guru
• Guru memberikan kesempatan kepada siswa yang ingin menanyakan hal yang belum dipahami dari pembelajaran hari ini.
• Meminta siswa menyimpulkan pembelajaran hari ini
• Guru menyimpulkan permasalahan pada pembelajaran hari ini
• Guru mengucapkan salam dan keluar dari kelas
Kegiatan siswa
• Mengajukan pertanyaan apabila ada hal yang belum dipahami dari pembelajaran hari ini
• Menyimpulkan pembelajaran pada hari ini.
10 menit
Total waktu 90 menit
VIII. SUMBER PEMBELAJARAN
• Internet : http://cerpen.net
• Buku teks. Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia Untuk Kelas X SMA/MA oleh : Adi Abdul, Somad Aminudin, Yudi Irawan. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
IX. PENILAIAN :
Jenis Tagihan:
tugas individu
ulangan
Bentuk Instrumen:
uraian bebas
jawaban singkat
EVALUASI
Peradilan Rakyat
Putu Wijaya
Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.
"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."
Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.
"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"
Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?"
"Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung
tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."
Pengacara muda itu tersenyum.
"Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."
"Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."
Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.
"Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."
Pengacara tua itu meringis.
"Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan."
"Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!"
Pengacara tua itu tertawa.
"Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua.
Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf.
"Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan," sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."
Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.
"Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog."
"Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya."
"Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.
Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.
Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini."
Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.
"Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya."
"Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba.
Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.
"Bagaimana Anda tahu?"
Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu."
Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.
"Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya."
Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
"Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?"
"Antara lain."
"Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku."
Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.
"Jadi langkahku sudah benar?"
Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.
"Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?"
"Tidak! Sama sekali tidak!"
"Bukan juga karena uang?!"
"Bukan!"
"Lalu karena apa?"
Pengacara muda itu tersenyum.
"Karena aku akan membelanya."
"Supaya dia menang?"
"Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku."
Pengacara tua termenung.
"Apa jawabanku salah?"
Orang tua itu menggeleng.
"Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang."
"Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan."
"Tapi kamu akan menang."
"Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang."
"Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini."
Pengacara muda itu tertawa kecil.
"Itu pujian atau peringatan?"
"Pujian."
"Asal Anda jujur saja."
"Aku jujur."
"Betul?"
"Betul!"
Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi.
"Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?"
"Bukan! Kenapa mesti takut?!"
"Mereka tidak mengancam kamu?"
"Mengacam bagaimana?"
"Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?"
"Tidak."
Pengacara tua itu terkejut.
"Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?"
"Tidak."
"Wah! Itu tidak profesional!"
Pengacara muda itu tertawa.
"Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!"
"Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?"
Pengacara muda itu terdiam.
"Bagaimana kalau dia sampai menang?"
"Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!"
"Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?"
Pengacara muda itu tak menjawab.
"Berarti ya!"
"Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"
Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.
"Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok."
"Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut."
"Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?"
"Betul."
"Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.
Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional."
Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan.
"Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia."
Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.
"Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional."
"Tapi..."
Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
"Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam."
Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.
"Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai."
Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.
Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.
"Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?"
Soal
1. Jelaskan unsur ekstrinsik dari cerpen di atas
2. Jelaskan unsur-unsur intrinsik tema, alur, penokohan, latar, amanat,
3. Tanggapilah (setuju atau tidak setuju) unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik yang disampaikan teman.
Jawaban
1. Unsur luar (ekstrinsik) yang kental dan terdapat dalamcerita tersebut adalah keadaan sosial yang ada saat cerpen tersebut dibuat. Kita dapat memahami keadaan sebuah negeri yang masih banyak kasus pelanggaran hukum. Selain itu, ada juga oknum-oknum penegak hukum yang malah melakukan pelanggaran.
2. Dalam cerita pendek tersebut, kita dapat menganalisis unsur intrinsiknya.
a. Tema
Yang terdapat dalam cerpen adalah sosial dimana membahas hubungan antar manusia yaitu ayah dan anak dalam pemberantasan korupsi.
b. setting
Latar yang ada dalam cerpen tersebut adalah suasana di rumah sang Pengacara Tua. Anda dapat menentukan latar tempat yang sesuai dengan penafsiran Anda sendiri. Latar sosial dalam cerita ini menyangkut keadaan negeri yang carut marut dalam hal keadilan, yaitu korupsi yang merajalela.
c. Alur
Dalam cerita adalah alur maju. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan kedatangan sang Pengacara Muda kepada Pengacara Tua (ayahnya). Selanjutnya timbul dialog yang terus maju dan timbul konflik antarpemikiran dua generasi.
d. Tokoh
Tokoh yang ada dalam cerita adalah Pengacara Tua dan Pengacara Muda. Pada awal cerita disebutkan bahwa keduanya memilki hubungan ayah-anak.
2. Selanjutnya, kita dapat memahami watak setiap tokoh sesuai dengan apa yang mereka bicarakan.
• Pengacara Tua : Memiliki sikap yang mau membela keadilan dan kebenaran sesuai dengan hukum. Hal ini dibuktikan dengan kutipan berikut.
"... Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuripencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."
• Pengacara Muda: Ia memiliki watak yang mau belajar dan berani membela kebenaran sesuai dengan apa yang telah diwariskan oleh ayahnya tersebut. Hal ini dibuktikan dengan apa yang dia ucapkan:
"Aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."
e. Amanat yang terdapat dalam cerpen tersebut, antara lain bahwa
jangan ada kesenjangan pemikiran antara kaum tua dan kaum muda.
Selasa, 20 April 2010
Pengembangan dan Penyusunan Bahan ajar Sastra
PENYUSUNAN DAN PENGENBANGAN BAHAN AJAR SASTRA
Sekolah Menengah Atas
Kelas XII Semester 1
Oleh :
SITI FAUZIAH ABDURAKHMAN
Kompetensi dasar : (Membaca) Menjelaskan unsur-unsur intrinsik cerpen
Indikator : • Menceritakan kembali isi cerpen.
• Menjelaskan unsur-unsur intrinsik cerpen.
Pengantar Penyajian Materi
Pernahkah anda membaca sebuah cerpen?, tahukah anda bahwa dalam sebuah cerpen terdapat unsure intrinsik?, cerita pendek yang seperti apa yang anda sukai?
Betul, cerpen atau cerita pendek merupakan jenis prosa fiksi. Dalam cerpen terdapat unsur intrinsik (teman, penokohan, konflik, amanat ).
Penyajian materi
Bacalah cerita pendek berikut!
Robohnya Surau Kami
Karangan A.A Navis
Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku denganmenumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Maka kira-kira sekilometer daripasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kanan,simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan nantiakan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnyamengalir melalui empat buah pancuran mandi.
Di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk disana dengansegala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahuntahunia sebagai garin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek.
Sebagai penajag surau, Kakek tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari sedekah yangdipungutnya sekali se-Jumat. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasilpemungutan ikan mas dari kolam itu. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkanfitrah Id kepadanya. Tapi sebagai garin ia tak begitu dikenal. Ia lebih di kenalsebagai pengasah pisau. Karena ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. Orangorangsuka minta tolong kepadanya, sedang ia tak pernah minta imbalan apa-apa.Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting,memberinya sambal sebagai imbalan. Orang laki-laki yang minta tolong,memberinya imbalan rokok, kadang-kadang uang. Tapi yang paling seringditerimanya ialah ucapan terima kasih dan sedikit senyum.
Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggallahsurau itu tanpa penjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempatbermain, memainkan segala apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisankayu bakar, sering suka mencopoti papan dinding atau lantai di malam hari.
Jika Tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankansuatu kesucian yang bakal roboh. Dan kerobohan itu kian hari kian cepatberlangsungnya. Secepat anak-anak berlari di dalamnya, secepat perempuanmencopoti pekayuannya. Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusiasekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak di jaga lagi.
Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Beginilah kisahnya.
Sekali hari aku datang pula mengupah Kakek. Biasanya Kakek gembira menerimaku,karena aku suka memberinya uang. Tapi sekali ini Kakek begitu muram. Di sudut benar ia duduk dengan lututnya menegak menopang tangan dan dagunya.Pandangannya sayu ke depan, seolah-olah ada sesuatu yang yang mengamuk pikirannya. Sebuah belek susu yang berisi minyak kelapa, sebuah asahan halus, kulit sol panjang, dan pisau cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek. Tidak pernah aku melihat Kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti saat itu. Kemudian aku duduk disampingnya dan aku jamah pisau itu. Dan aku tanyaKakek,
"Pisau siapa, Kek?
""Ajo Sidi."
"Ajo Sidi?"
Kakek tak menyahut. Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Dan aku ingin ketemu dia lagi. Aku senang mendengar bualannya. AjoSidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari.Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku-pelaku yang diceritakannya menjadi model orang untuk diejek dan ceritanya menjadi pameo akhirnya. Ada-ada saja orang-orang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelaku-pelaku ceritanya. Ketika sekali ia menceritakan bagaimana sifat seekor katak,dan kebetulan ada pula seorang yang ketagihan menjadi pemimpin berkelakuan seperti katak itu, maka untuk selanjutnya pimpinan tersebut kami sebut pimpinan katak.Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatang Ajo Sidi kepadanya. Apakah AjoSidi telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan Kakek? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya Kakek lagi.
"Apa ceritanya, Kek?"
"Siapa?"
"Ajo Sidi."
"Kurang ajar dia," Kakek menjawab.
"Kenapa?"
"Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini, menggorok tenggorokannya."
"Kakek marah?"
"Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam.Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya,ibadatku rusak karenanya. Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan. Sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepada-Nya.Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal."
Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Aku tanya lagi Kakek,
"Bagaimana katanya, Kek?"
Tapi Kakek diam saja. Berat hatinya bercerita barangkali. Karena aku telah berulang-ulang bertanya, lalu ia yang bertanya padaku,
"Kau kenal padaku, bukan? Sedari kaukecil aku sudah disini. Sedari mudaku, bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua,bukan? Terkutukkah perbuatanku? Dikutuki Tuhankah semua pekerjaanku?"
Tapi aku tak perlu menjawabnya lagi. Sebab aku tahu, kalau Kakek sudah membuka mulutnya, dia takkan diam lagi. Aku biarkan Kakek dengan pertanyaannya sendiri.
"Sedari muda aku di sini, bukan? Tak kuingat punya isteri, punya anak, punya keluarga seperti orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah Subhanahu Wataala. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat seekor engganaku membunuhnya. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Umpan neraka. Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan, sangkamu? Akan dikutukinya aku kalau selama hidupku aku mengabdi kepada-Nya? Tak kupikirkan hari esokku, karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih dan penyayang kepada umat nya yang tawakal. Aku bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul beduk membangunkan manusia dari tidurnya, supaya bersujud kepada-Nya. Aku sembahyang setiap waktu. Aku puji-puji Dia. Aku baca Kitab-Nya. Alhamdulillah kataku bila aku menerima karunia-Nya.Astagfirullah kataku bila aku terkejut. Masya Allah kataku bila aku kagum.Apa salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk."
Ketika Kakek terdiam agak lama, aku menyelakan tanyaku, "Ia katakan Kakek begitu, Kek?"
"Ia tak mengatakan aku terkutuk. Tapi begitulah kira-kiranya."
Dan aku melihat mata Kakek berlinang. Aku jadi belas kepadanya. Dalam hatiku aku mengumpati Ajo Sidi yang begitu memukuli hati Kakek. Dan ingin tahuku menjadikan aku nyinyir bertanya. Dan akhirnya Kakek bercerita lagi.
"Pada suatu waktu, ‘kata Ajo Sidi memulai,
‘di akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Para malaikat bertugas di samping-Nya. Ditangan mereka tergenggam daftar dosa dan pahala manusia. Begitu banyak orang yang diperiksa. Maklumlah dimana-mana ada perang. Dan di antara orang-orang yangdiperiksa itu ada seirang yang di dunia di namai Haji Saleh. Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja, karena ia sudah begitu yakin akan di masukkan ke dalam surga. Kedua tangannya ditopangkan di pinggang sambil membusungkan dada dan menekurkan kepala ke kuduk. Ketika dilihatnya orang-orang yang masuk neraka, bibirnya menyunggingkan senyum ejekan. Dan ketika ia melihat orang yang masuk ke surga, ia melambaikan tangannya, seolah hendak mengatakan
“selamat ketemu nanti”. Bagai tak habis-habisnya orang yang berantri begitu panjangnya. Susut dimuka, bertambah yang di belakang. Dan Tuhan memeriksa dengan segala sifat-Nya. Akhirnya sampailah giliran Haji Saleh. Sambil tersenyum bangga ia menyembah Tuhan. Lalu Tuhan mengajukan pertanyaan pertama.
“Engkau?”
‘Aku Saleh. Tapi karena aku sudah ke Mekah, Haji Saleh namaku.’
‘Aku tidak tanya nama. Nama bagiku, tak perlu. Nama hanya buat engkau di dunia.’
‘Ya, Tuhanku.’
‘Apa kerjamu di dunia?’
‘Aku menyembah Engkau selalu, Tuhanku.’
‘Lain?’
‘Setiap hari, setiap malam. Bahkan setiap masa aku menyebut-nyebut nama-Mu.’
‘Lain.’
‘Ya, Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat menyembah-Mu,menyebut-nyebut nama-Mu. Bahkan dalam kasih-Mu, ketika aku sakit, nama-Mu menjadi buah bibirku juga. Dan aku selalu berdoa, mendoakan kemurahan hati-Mu untuk menginsafkan umat-Mu.’
‘Lain?’
Haji Saleh tak dapat menjawab lagi. Ia telah menceritakan segala yang ia kerjakan.Tapi ia insaf, pertanyaan Tuhan bukan asal bertanya saja, tentu ada lagi yang belumdi katakannya. Tapi menurut pendapatnya, ia telah menceritakan segalanya. Ia taktahu lagi apa yang harus dikatakannya. Ia termenung dan menekurkan kepalanya.Api neraka tiba-tiba menghawakan kehangatannya ke tubuh Haji Saleh. Dan ia menangis. Tapi setiap air matanya mengalir, diisap kering oleh hawa panas nerakaitu.
‘Lain lagi?’ tanya Tuhan.
‘Sudah hamba-Mu ceritakan semuanya, o, Tuhan yang Mahabesar, lagi Pengasih dan Penyayang, Adil dan Maha Tahu.’ Haji Saleh yang sudah kuyu mencobakan siasat merendahkan diri dan memuji Tuhan dengan pengharapan semoga Tuhan bisa berbuat lembut terhadapnya dan tidak salah tanya kepadanya.Tapi Tuhan bertanya lagi:
‘Tak ada lagi?’
‘O, o, ooo, anu Tuhanku. Aku selalu membaca Kitab-Mu.’
‘Lain?’
‘Sudah kuceritakan semuanya, o, Tuhanku. Tapi kalau ada yang lupa aku katakan,aku pun bersyukur karena Engkaulah Mahatahu.’
‘Sungguh tidak ada lagi yang kau kerjakan di dunia selain yang kau ceritakan tadi?’
‘Ya, itulah semuanya, Tuhanku.’
‘Masuk kamu.’
Dan malaikat dengan sigapnya menjewer Haji Saleh ke neraka. Haji Saleh tidak mengerti kenapa ia di bawa ke neraka. Ia tak mengerti apa yang di kehendaki Tuhan dari padanya dan ia percaya Tuhan tidak silap. Alangkah tercengang Haji Saleh, karena di neraka itu banyak teman-temannya di dunia terpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan ia tambah tak mengerti dengan keadaan dirinya, karena semua orang yang dilihatnya di neraka itu tak kurang ibadatnya dari dia sendiri.
Bahkan ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali ke Mekah dan bergelar syekh pula. Lalu Haji Saleh mendekati mereka, dan bertanya kenapa mereka di nerakakan semuanya. Tapi sebagaimana Haji Saleh,orang-orang itu pun, tak mengerti juga.
‘Bagaimana Tuhan kita ini?’ kata Haji Saleh kemudian,
‘Bukankah kita di suruh-Nyataat beribadat, teguh beriman? Dan itu semua sudah kita kerjakan selama hidupkita. Tapi kini kita dimasukkan-Nya ke neraka.’
‘Ya, kami juga heran. Tengoklah itu orang-orang se-negeri dengan kita semua, dan tak kurang ketaatannya beribadat,’ kata salah seorang diantaranya.
‘Ini sungguh tidak adil.’
‘Memang tidak adil,’ kata orang-orang itu mengulangi ucapan Haji Saleh.
‘Kalau begitu, kita harus minta kesaksian atas kesalahan kita.’
‘Kita harus mengingatkan Tuhan, kalau-kalau Ia silap memasukkan kita ke neraka ini.’
‘Benar. Benar. Benar.’ Sorakan yang lain membenarkan Haji Saleh.
‘Kalau Tuhan tak mau mengakui kesilapan-Nya, bagaimana?’ suatu suara melengking di dalam kelompok orang banyak itu.
‘Kita protes. Kita resolusikan,’ kata Haji Saleh.
‘Apa kita revolusikan juga?’ tanya suara yang lain, yang rupanya di dunia menjadipemimpin gerakan revolusioner.
‘Itu tergantung kepada keadaan,’ kata Haji Saleh.
‘Yang penting sekarang, mari kita berdemonstrasi menghadap Tuhan.’
‘Cocok sekali. Di dunia dulu dengan demonstrasi saja, banyak yang kita peroleh,’sebuah suara menyela.
‘Setuju. Setuju. Setuju.’ Mereka bersorak beramai-ramai.Lalu mereka berangkatlah bersama-sama menghadap Tuhan.Dan Tuhan bertanya,
‘Kalian mau apa?’ Haji Saleh yang menjadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama rendah, ia memulai pidatonya:
‘O, Tuhankami yang Maha Besar. Kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat, yang paling taat menyembahmu. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu, memuji-muji kebesaran-Mu, mempropagandakan keadilan-Mu,dan lain-lainnya. Kitab-Mu kami hafal di luar kepala kami. Tak sesat sedikitpun kami membacanya. Akan tetapi, Tuhanku yang Maha Kuasa setelah kami Engkau panggil kemari, Engkau memasukkan kami ke neraka. Maka sebelum terjadi hal-hal yang tak diingini, maka di sini, atas nama orang-orang yang cinta pada-Mu, kami menuntut agar hukuman yang Kau jatuhkan kepada kami ke surga sebagaimana yang Engkau janjikan dalam Kitab-Mu.’
‘Kalian di dunia tinggal di mana?’ tanya Tuhan.
‘Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku.
’‘O, di negeri yang tanahnya subur itu?’
‘Ya, benarlah itu, Tuhanku.’‘Tanahnya yang mahakaya raya, penuh oleh logam, minyak, dan berbagai bahan tambang lainnya, bukan?’
‘Benar. Benar. Benar. Tuhan kami. Itulah negeri kami.’ Mereka mulai menjawab serentak. Karena fajar kegembiraan telah membayang di wajahnya kembali. Dan yakinlah mereka sekarang, bahwa Tuhan telah silap menjatuhkan hukuman kepadamereka itu.
‘Di negeri mana tanahnya begitu subur, sehingga tanaman tumbuh tanpa di tanam?’
‘Benar. Benar. Benar. Itulah negeri kami.’
‘Di negeri, di mana penduduknya sendiri melarat?’
‘Ya. Ya. Ya. Itulah dia negeri kami.’
‘Negeri yang lama diperbudak negeri lain?’‘Ya, Tuhanku. Sungguh laknat penjajah itu, Tuhanku.’
‘Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya, dan diangkut ke negerinya, bukan?’
‘Benar, Tuhanku. Hingga kami tak mendapat apa-apa lagi. Sungguh laknat mereka itu.’
‘Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi, sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan?’
‘Benar, Tuhanku. Tapi bagi kami soal harta benda itu kami tak mau tahu. Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Engkau.’
‘Engkau rela tetap melarat, bukan?’
‘Benar. Kami rela sekali, Tuhanku.’
‘Karena keralaanmu itu, anak cucumu tetap juga melarat, bukan?’
‘Sungguhpun anak cucu kami itu melarat, tapi mereka semua pintar mengaji. Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala.’
‘Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak di masukkan ke hatinya, bukan?’
‘Ada, Tuhanku.’
‘Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu,saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk di sembah saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan dikeraknya!
"Semua menjadi pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka sekarang apa jalan yang diridai Allah di dunia. Tapi Haji Saleh ingin juga kepastian apakah yang akan di kerjakannya di dunia itu salah atau benar. Tapi ia tak berani bertanya kepada Tuhan. Ia bertanya saja pada malaikat yang menggiring mereka itu.
‘Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami, menyembah Tuhan di dunia?’ Tanya Haji Saleh.
‘Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat sembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaum mu sendiri, melupakan kehidupan anak isterimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikit pun.
’Demikianlah cerita Ajo Sidi yang kudengar dari Kakek. Cerita yang memurungkan Kakek. Dan besoknya, ketika aku mau turun rumah pagi-pagi, istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk.
"Siapa yang meninggal?" tanyaku kagut.
"Kakek."
"Kakek?"
"Ya. Tadi subuh Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Ia menggoroh lehernya dengan pisau cukur."
"Astaga! Ajo Sidi punya gara-gara," kataku seraya cepat-cepat meninggalkan istriku yang tercengang-cengang. Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Tapi aku berjumpa dengan istrinya saja. Lalu aku tanya dia.
"Ia sudah pergi," jawab istri Ajo Sidi.
"Tidak ia tahu Kakek meninggal?"
"Sudah. Dan ia meninggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis."
"Dan sekarang," tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikit pun bertanggung jawab,
"Dan sekarang kemana dia?"
"Kerja."
"Kerja?" tanyaku mengulangi hampa.
"Ya, dia pergi kerja."
Sumber : http://cerpen.net
Unsur intrinsik adalah unsur dalam yang membentuk penciptaan karya sastra. Unsur ini berupa tema, amanat, latar, alur, penokohan,
Tema
Pengarang yang sedang menulis cerita pasti akan menuangkan gagasannya. Tanpa gagasan pasti dia tidak bisa menulis cerita. Gagasan yang mendasari cerita yang dibuatnya itulah yang disebut tema dan gagasan seperti ini selalu berupa pokok bahasan.
Tema atau pokok persoalan cerpen Robohnya Surau Kami terletak pada persoalan batin kakek Garin setelah mendengar bualan Ajo Sidi.
tema cerpen ini adalah seorang kepala keluarga lalai itu sehingga masalah kelalaiannya itu akhirnya mampu membunuh dirinya.
Amanat
Amanat merupakan keinginan pengarang untuk menyampaikan pesan atau nasihat kepada pembacanya.
Amanat yang terdapat dalam cerpen Robohnya Surau Kami adalah
(a) Jangan cepat marah kalau ada orang yang mengejek atau menasehati kita karena ada perbuatan kita yang kurang layak di hadapan orang lain.
(b) Jangan cepat bangga akan perbuatan baik yang kita lakukan karena hal ini bisa saja baik di hadapan manusia tetapi tetap kurang baik di hadapan Tuhan itu.
(c) Kita jangan terpesona oleh gelar dan nama besar sebab hal itu akan mencelakakan diri pemakainya.
(d) Jangan menyia-nyiakan apa yang kamu miliki,
(e) Jangan mementingkan diri sendiri
Latar
Dalam suatu cerita latar dibentuk melalui segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya suatu peristiwa. Latar ini ada tiga macam, yaitu: latar tempat; latar waktu; dan latar sosial.
Latar Tempat
Latar tempat yang ada dalam cerpen ini jelas disebutkan oleh pengarangnya, seperti kota, dekat pasar, di surau,
Latar Waktu
Latar jenis ini, yang terdapat dalam cerpen ini ada yang bersamaan dengan latar tempat, seperti yang sudah dipaparkan di atas pada latar.
Latar Sosial
Latar sosial ini menunjukkan bahwa salah satu tokoh dalam cerita ini termasuk kedalam kelompok sosial pekerja. Datanya seperti ini.
Alur (plot)
Alur adalah peristiwa-peristiwa yang diceritakan dengan panjang lebar dalam suatu rangkaian tertentu dan memiliki struktur.
Penokohan
Yang dimaksud dengan penokohan yakni bagaimana pengarang menampilkan perilaku tokoh-tokohnya berikut wataknya.
a. Tokoh Aku
b. Ajo Sidi
c. Si Kakek
d. Haji Saleh
Uji kompetensi
Bacalah cerpen dibawah ini
KUPU-KUPU BERWARNA UNGU
Hari mulai menampakkan warna jingganya yang lembut. Angin semilir membelai tiap helai rumput liar di tanah yang lapang itu. Pohon-pohon yang kokoh bergoyang mengikuti hembusan angin yang tak tentu arah.
Burung terbang kesana-kemari. Mengepakkan sayap kecilnya yang penuh dengan bulu lembutnya.
Burung-burung itu hinggap di ranting pohon mangga milik laki-laki tua, yang selalu mengumpulkan kayu-kayu yang nantinya akan dijual untuk nafkah anak istrinya.
Seekor ulat hijau kecil diam menatap burung-burung itu terbang kesana-kemari. Dia menatapnya penuh kekaguman. Ulat itu duduk diam di atas pohon yang telah tumbang. Dapat terlihat umur pohon itu dari tiap lingkar usianya.
Ulat hijau itu terus menatap burung-burung yang masih berterbangan.
Burung-burung itu sibuk mencari makanan, entah itu cacing ataupun biji-bijian untuk diberikan kepada anak-anaknya. Sesekali terlihat satu-dua burung membawa sehelai daun kering. Daun-daun kering itu akan ia kumpulkan untuk membuat sarang yang besar dan hangat.
Dengan penuh kesabaran, para burung itu sibuk mengurus dirinya sendiri. Terbang bebas menembus cakrawala senja. Ulat hijau itu masih terus menatap burung-burung itu. Dia mulai berfikir
.“Aku ingin menjadi burung. Bisa terbang kesana kemari. Bersama kawanan burung. Membangun sarang. Sungguh pintar burung-burung itu. Membangun sarang dari daun yang kering, namun hangat. Aku akan menghasilkan telur yang banyak. Aku ingin menjadi burung. Burung punya bulu lembut. Aku tak mungkin kedinginan. Berpeluk bulu-bulu hangat dan tertidur pulas. Aku ingin menjadi seekor burung.”
Dan ulat itu masih diam melihat burung-burung itu. Esoknya, udara begitu panas. Matahari sangat terik dan membosankan. Pekarangan milik laki-laki tua itu terasa sangat gersang. Meskipun tumbuhan hijau mengelilingi pekarangan rumah itu, tapi udara begitu panas untuk dinikmati. Ulat hijau itu masih duduk terdiam di atas pohon yang tumbang itu. Dia tidak ingin kemana-mana. Dia merasa gerah apabila berjalan kesana-kemari. Dan itu membuatnya merasa tidak nyaman. Dengan tubuh gemuk dan kecil, membuatnya cepat merasa gerah.
Senja pun mulai menghiasi langit.
Mulai bermunculan capung-capung dari segala arah. Mereka terbang kesana-kemari. Dua sayap tipisnya bergerak begitu cepat. Seakan sangat ringan untuk dipatahkannya.Ulat hijau itu menatap kagum capung-capung yang ramai berterbangan di pekarangan milik laki-laki tua itu. Duduk diam menatap capung. Suara ngiungan capung membuat bising, tapi merdu. Para capung saling bergerombol dan terbang naik-turun. Kompak sekali. Sesekali mereka berhenti terbang tetapi masih melayang. sesekali capung-capung itu hinggap di dahan pohon atau pun bunga-bunga. Ulat kecil itu mulai berfikir.
“Aku ingin menjadi capung. Di cuaca panas seperti ini pasti menyenangkan terbang bersama kawanan capung yang lain. Badan yang ramping kecil tidak akan membuat badan gerah meski terbang di cuaca panas seperti ini. Sayapku tipis tetapi bisa mengepak cepat dan terasa ringan. Aku ingin menjadi capung.”
Ucapnya pada diri sendiri. Ulat hijau itu masih menatap ratusan capung di pekarangan rumah milik lelaki tua itu. Menatap dengan kagum.Esoknya, udara masih panas. Tetapi tidak sepanas kemarin. Ulat kecil itu masih duduk di atas pohon yang telah tumbang itu. Dia jalan-jalan di atasnya. Badannya mulai terasa berat dan lebih berisi.
Sesaat dia terpaku melihat segerombolan lebah datang dan berkumpul pada ranting pohon mangga milik lelaki tua itu. Badan lebah yang kecil hitam dan sedikit berbulu membuat ulat hijau itu kagum terhadap penampilannya. Ada jarum kecil di ujung ekornya. Dan sepertinya ulat hijau itu tahu kegunaannya. Pasti untuk melindungi diri lebah dari serangan lain.
Ulat hijau itu duduk menatap lebah yang sibuk pada kegiatan yang dilakukannya. Membuat madu. Ulat hijau melihat sarang lebah yang berlubang di atas pohon mangga itu. Berkali-kali lebah-lebah itu meletakkan ujung ekornya ke dalam lubang itu. Selepasnya terlihat cairan mengkilat dan kental di dalamnya. Begitu menakjubkan tontonan itu. Ulat kecil itu tak berhenti menatap lebah-lebah itu. Dia mulai berfikir.
“Aku ingin menjadi lebah. Badannya yang bagus, hitam, berbulu dan punya senjata di ujung ekornya membuatku lebih merasa kuat. Aku ingin menghasilkan cairan kental itu setiap hati. Cairan itu begitu mengkilat dan aku ingin memilikinya. Aku ingin menjadi lebah.”
Katanya lalu berjalan menuju kaki pohon mangga. Badan kecilnya menggeliat pelan menuju kaki pohon mangga itu. Dia harus melewati rumput-rumput hijau yang tinggi, harus melewati kerikil-kerikil yang menurutnya sangat besar. Melewati sampah-sampah kecil yang dipenuhi oleh hewan-hewan kecil. Dan harus melewati hewan-hewan kecil yang lain seperti semut dan kutu.
“Aku ingin menemui lebah-lebah itu. Aku ingin bertemu dengan mereka. Aku ingin cepat-cepat bertemu dengan mereka!!” serunya.
“Lihatlah para makhluk kecil, aku akan menjadi lebah, dan terbang di atas kalian!”
Butuh waktu lama untuk sampai ke atas ranting pohon mangga itu. Badan gemuknya membuat gerah yang tidak karuan. Apalagi hari demi hari badannya semakin gemuk dan besar saja.Saat dia hampir sampai di mana lebah itu bersarang, terdengar bisik-bisik semut merah yang juga melewati batang bohon mangga.
“Hei kawan,” sapa semut merah pada kawanan semut lainnya, “tidakkah kalian lihat ulat hijau itu. Badannya mulai membesar dan berbentuk! Akankah dia menjadi kepompong dan berubah menjadi kupu-kupu?”
Ulat hijau kecil itu terhenti sejenak.
“Ya, sudah waktunya dia berubah wujud.” Sahut semut lainnya.
“Akankah dia cantik? Secantik kupu-kupu yang ada di taman bunga itu?” tanya semut merah yang paling kecil.
“Ya, aku pikir begitu.” Sahut semut merah yang lain. Kemudian mereka pergi.
Kupu-kupu? Batin ulat hijau, makhluk apa itu? Cantik? Dan aku akan berubah menjadi kupu-kupu? Apa kelebihannya? Apa lebih pintar dari burung? Apa lebih lincah dari capung? Apa lebih kuat dari lebah? Aku ingin melihat kupu-kupu!
Dimana aku bisa menemukannya? Tunggu!! Taman bunga! Ya! Di situ tempatnya. Tapi di mana aku bisa menemukan taman bunga?
Kini ulat hijau itu berbalik arah menuju kaki pohon mangga, tapi langkahnya terhenti. Samar-samar terlihat warna-warni di sebelah utara pekarangan milik lelaki tua itu. Dan terlihat makhluk bersayap lebar terbang di sekeliling negeri penuh warna itu.
“Itu taman bunga.” Ujar kupu-kupu betina. Kupu-kupu betina itu tiba-tiba sudah ada di belakang ulat hijau itu. Sayapnya yang berwarna kuning menyala itu sangat indah dan mengagumkan. Sejenak ulat hijau terpukau melihat sayap lebar yang indah itu.
“Taman bunga?”
“Ya. Akankah kau mau menyusul kami?”
“Aku? Tapi apa lebah bisa ikut kalian?”
“Lebah? Kau akan menjadi kupu-kupu.”
“Kupu-kupu? Seperti apa kupu-kupu itu? Apakah dia cantik?”
“Kau akan menjadi kupu-kupu jantan yang tampan. Sayapmu akan memancarkan keindahanmu. Tunggulah waktunya.”
“Apa kau kupu-kupu itu?” Kupu-kupu betina itu mengangguk. Ia menjulurkan belalainya yang panjang menggulung di mulutnya.
“Kau akan mengiasi taman bunga. Dan mengobati luka para manusia yang gundah gulana. Mempercantik taman mereka, dan itu menyenangkan. Aku tunggu kau di taman itu. Tunjukan sayap indahmu padaku.” Ujarnya lalu pergi meningalkan ulat hijau itu.
“Kupu-kupu?” katanya pada diri sendiri.
“Menghiasi taman, cantik, mengobati luka manusia yang gundah gulana, dan sayapku indah. Aku ingin menjadi kupu-kupu! Tapi kapan aku menjadi seperti mereka?” Ulat hijau itu diam merenung di batang pohon mangga itu. Ia mengurungkan niatnya bertemu dengan lebah-lebah itu. Tiba-tiba terdengar jerit melengking dari dalam rumah lelaki tua itu. Ternyata anaknya yang menjerit. Laki-laki tua dan anaknya keluar dari rumah dengan terburu-buru. Kening anak itu bengkak dan berwarna merah kebiru-biruan.
“Lebah itu menusukku!!” jeritnya.
“Usir dia, Ayah!”
“Cepat kompres dengan ini.” Ayahnya memberikan handuk hangat pada anaknya.
Ulat hijau itu kaget melihat peristiwa itu. Ingin dia menghibur anak kecil itu agar tidak menangis lagi. Ingin dia mencium keningnya agar tidak terasa sakit lagi. Dia merasa iba dengannya.
“Mengapa lebah itu jahat?” tanyanya pada diri sendiri.
“Lebah menyakiti anak kecil itu. Kasihan dia... aku akan menghiburnya jika aku menjadi kupu-kupu nanti...”
Tiba saatnya, ulat kecil itu diselimuti selaput hijau. Badannya mulai terbungkus dan menempel pada batang pohon mangga itu. Warna hijau muda yang terlihat sangat segar. Kepompong itu diam di batang pohon mangga itu selama berhari-hari. Hari demi hari, warna hijau kepompong itu memudar dan menjadi putih pucat kecoklatan. Selimut itu menjadi kering dan mulai robek.Perlahan sayap basah dan berwarna ungu itu menyumbul dari selimut keringnya. Badannya yang mungil melepaskan diri dari kamar kecilnya itu. Kaki-kaki tipis itu mulai dijejakkan di permukaan batang pohon mangga itu. Belalai yang panjang dan menggulung telah dimilikinya. Pelahan digerak-gerakkannya sayap yang sudah melai mengering itu, semakin cepat dan terbanglah kupu-kupu tampan itu. Akhirnya dia merasakan terbang bebas di kaki langit, melihat dunia sebatas cakrawala mata, dengan badan ramping dan sayap yang indah.
Sesegera mungkin dia terbang menuju taman bunga itu. Dilihatnya bunga-bunga yang begitu memikat hati. Hasrat untuk mendekatinya sangat besar. Kupu-kupu muda itu hinggap di atas bunga mawar putih. Untuk pertama kalinya belalai panjang itu digunakannya untuk menghisap madu. Begitu nikmat madu ini..., batinnya, ah..., aku lupa! Aku harus menemui kupu-kupu bersayap kuning itu. Tapi..., dimana dia??Kupu-kupu itu terbang mencari dari kupu-kupu bersayap kuning itu. Dia berkeliling taman mencarinya. Sesaat kemudian, dia bertemu dengan kupu-kupu betina tersebut.
“Kau sudah berubah ternyata. Aku telah lama menunggumu di sini.” Ujar kupu-kupu bersayap kuning itu.
“Kini tiba saatnya aku mengatakan sesuatu padamu. Aku akan terbang ke taman lain, dan aku tidak akan pergi sebelum bertemu dengan kau.”
“Tapi mengapa kau pergi? Aku baru saja menjadi kupu-kupu dan baru saja bertemu dengan kau, tapi mengapa kau ingin pergi meninggalkan aku?”
“Cita-citaku sebagai kupu-kupu, adalah pergi ke seluruh taman di negeri ini. Tapi itu mustahil. Aku hanya bisa pergi dari taman satu ke taman yang lainnya. Dan sudah waktunya aku pergi lagi.”
“Tapi...”
“Jadilah kupu-kupu yang baik dan cantik. Jadilah dirimu sendiri. Buatlah hidupmu berarti. Buatlah cita-cita untuk tujuan hidupmu.” Kupu-kupu betina itu bersiap untuk terbang.
“Ikuti kata hatimu...” ujarnya lalu pergi. Itu kata-kata terakhir yang diucapkan kupu-kupu bersayap kuning itu. Tinggalah kupu-kupu muda bersayap ungu sendiri. Akhirnya dia memutuskan untuk terbang mencari sesuatu yang mungkin bisa dijadikan obyek bermainnya. Dia terbang menuju rumah milik lelaki tua itu. Terlihat lelaki tua dan anaknya sedang bersenda gurau. Istrinya sedang memasak di dapur. Kupu-kupu muda itu masuk ke rumah itu. Akhirnya dia bisa masuk ke dalam rumah itu.
“Ayah! Ada kupu-kupu cantik di sini!”
Lelaki tua itu mengulurkan tangannya, dan kupu-kupu muda itu hinggap di punggung telapak tangan lelaki tua itu.Begitu menginjakkan kakinya di tangan yang mulai keriput itu, pikiran kecil masuk di otaknya.
“Aku ingin menghibur keluarga ini. Aku akan selalu hadir dalam hidup mereka. Aku bercita-cita membawa keindahan di rumah mereka. Aku ingin menghiasi rumah mereka. Sampai aku mati nanti...”
Latihan
1. Ceritakan kembali isi cerpen kupu-kupu berwarna ungu!
2. Jelaskanlah unsur intrinsic dalam cerpen diatas
a) Tema
b) Latar
c) Alur
d) Penokohan
e) Amanat
Sekolah Menengah Atas
Kelas XII Semester 1
Oleh :
SITI FAUZIAH ABDURAKHMAN
Kompetensi dasar : (Membaca) Menjelaskan unsur-unsur intrinsik cerpen
Indikator : • Menceritakan kembali isi cerpen.
• Menjelaskan unsur-unsur intrinsik cerpen.
Pengantar Penyajian Materi
Pernahkah anda membaca sebuah cerpen?, tahukah anda bahwa dalam sebuah cerpen terdapat unsure intrinsik?, cerita pendek yang seperti apa yang anda sukai?
Betul, cerpen atau cerita pendek merupakan jenis prosa fiksi. Dalam cerpen terdapat unsur intrinsik (teman, penokohan, konflik, amanat ).
Penyajian materi
Bacalah cerita pendek berikut!
Robohnya Surau Kami
Karangan A.A Navis
Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku denganmenumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Maka kira-kira sekilometer daripasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kanan,simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan nantiakan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnyamengalir melalui empat buah pancuran mandi.
Di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk disana dengansegala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahuntahunia sebagai garin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek.
Sebagai penajag surau, Kakek tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari sedekah yangdipungutnya sekali se-Jumat. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasilpemungutan ikan mas dari kolam itu. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkanfitrah Id kepadanya. Tapi sebagai garin ia tak begitu dikenal. Ia lebih di kenalsebagai pengasah pisau. Karena ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. Orangorangsuka minta tolong kepadanya, sedang ia tak pernah minta imbalan apa-apa.Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting,memberinya sambal sebagai imbalan. Orang laki-laki yang minta tolong,memberinya imbalan rokok, kadang-kadang uang. Tapi yang paling seringditerimanya ialah ucapan terima kasih dan sedikit senyum.
Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggallahsurau itu tanpa penjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempatbermain, memainkan segala apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisankayu bakar, sering suka mencopoti papan dinding atau lantai di malam hari.
Jika Tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankansuatu kesucian yang bakal roboh. Dan kerobohan itu kian hari kian cepatberlangsungnya. Secepat anak-anak berlari di dalamnya, secepat perempuanmencopoti pekayuannya. Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusiasekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak di jaga lagi.
Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Beginilah kisahnya.
Sekali hari aku datang pula mengupah Kakek. Biasanya Kakek gembira menerimaku,karena aku suka memberinya uang. Tapi sekali ini Kakek begitu muram. Di sudut benar ia duduk dengan lututnya menegak menopang tangan dan dagunya.Pandangannya sayu ke depan, seolah-olah ada sesuatu yang yang mengamuk pikirannya. Sebuah belek susu yang berisi minyak kelapa, sebuah asahan halus, kulit sol panjang, dan pisau cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek. Tidak pernah aku melihat Kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti saat itu. Kemudian aku duduk disampingnya dan aku jamah pisau itu. Dan aku tanyaKakek,
"Pisau siapa, Kek?
""Ajo Sidi."
"Ajo Sidi?"
Kakek tak menyahut. Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Dan aku ingin ketemu dia lagi. Aku senang mendengar bualannya. AjoSidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari.Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku-pelaku yang diceritakannya menjadi model orang untuk diejek dan ceritanya menjadi pameo akhirnya. Ada-ada saja orang-orang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelaku-pelaku ceritanya. Ketika sekali ia menceritakan bagaimana sifat seekor katak,dan kebetulan ada pula seorang yang ketagihan menjadi pemimpin berkelakuan seperti katak itu, maka untuk selanjutnya pimpinan tersebut kami sebut pimpinan katak.Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatang Ajo Sidi kepadanya. Apakah AjoSidi telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan Kakek? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya Kakek lagi.
"Apa ceritanya, Kek?"
"Siapa?"
"Ajo Sidi."
"Kurang ajar dia," Kakek menjawab.
"Kenapa?"
"Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini, menggorok tenggorokannya."
"Kakek marah?"
"Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam.Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya,ibadatku rusak karenanya. Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan. Sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepada-Nya.Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal."
Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Aku tanya lagi Kakek,
"Bagaimana katanya, Kek?"
Tapi Kakek diam saja. Berat hatinya bercerita barangkali. Karena aku telah berulang-ulang bertanya, lalu ia yang bertanya padaku,
"Kau kenal padaku, bukan? Sedari kaukecil aku sudah disini. Sedari mudaku, bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua,bukan? Terkutukkah perbuatanku? Dikutuki Tuhankah semua pekerjaanku?"
Tapi aku tak perlu menjawabnya lagi. Sebab aku tahu, kalau Kakek sudah membuka mulutnya, dia takkan diam lagi. Aku biarkan Kakek dengan pertanyaannya sendiri.
"Sedari muda aku di sini, bukan? Tak kuingat punya isteri, punya anak, punya keluarga seperti orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah Subhanahu Wataala. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat seekor engganaku membunuhnya. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Umpan neraka. Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan, sangkamu? Akan dikutukinya aku kalau selama hidupku aku mengabdi kepada-Nya? Tak kupikirkan hari esokku, karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih dan penyayang kepada umat nya yang tawakal. Aku bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul beduk membangunkan manusia dari tidurnya, supaya bersujud kepada-Nya. Aku sembahyang setiap waktu. Aku puji-puji Dia. Aku baca Kitab-Nya. Alhamdulillah kataku bila aku menerima karunia-Nya.Astagfirullah kataku bila aku terkejut. Masya Allah kataku bila aku kagum.Apa salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk."
Ketika Kakek terdiam agak lama, aku menyelakan tanyaku, "Ia katakan Kakek begitu, Kek?"
"Ia tak mengatakan aku terkutuk. Tapi begitulah kira-kiranya."
Dan aku melihat mata Kakek berlinang. Aku jadi belas kepadanya. Dalam hatiku aku mengumpati Ajo Sidi yang begitu memukuli hati Kakek. Dan ingin tahuku menjadikan aku nyinyir bertanya. Dan akhirnya Kakek bercerita lagi.
"Pada suatu waktu, ‘kata Ajo Sidi memulai,
‘di akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Para malaikat bertugas di samping-Nya. Ditangan mereka tergenggam daftar dosa dan pahala manusia. Begitu banyak orang yang diperiksa. Maklumlah dimana-mana ada perang. Dan di antara orang-orang yangdiperiksa itu ada seirang yang di dunia di namai Haji Saleh. Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja, karena ia sudah begitu yakin akan di masukkan ke dalam surga. Kedua tangannya ditopangkan di pinggang sambil membusungkan dada dan menekurkan kepala ke kuduk. Ketika dilihatnya orang-orang yang masuk neraka, bibirnya menyunggingkan senyum ejekan. Dan ketika ia melihat orang yang masuk ke surga, ia melambaikan tangannya, seolah hendak mengatakan
“selamat ketemu nanti”. Bagai tak habis-habisnya orang yang berantri begitu panjangnya. Susut dimuka, bertambah yang di belakang. Dan Tuhan memeriksa dengan segala sifat-Nya. Akhirnya sampailah giliran Haji Saleh. Sambil tersenyum bangga ia menyembah Tuhan. Lalu Tuhan mengajukan pertanyaan pertama.
“Engkau?”
‘Aku Saleh. Tapi karena aku sudah ke Mekah, Haji Saleh namaku.’
‘Aku tidak tanya nama. Nama bagiku, tak perlu. Nama hanya buat engkau di dunia.’
‘Ya, Tuhanku.’
‘Apa kerjamu di dunia?’
‘Aku menyembah Engkau selalu, Tuhanku.’
‘Lain?’
‘Setiap hari, setiap malam. Bahkan setiap masa aku menyebut-nyebut nama-Mu.’
‘Lain.’
‘Ya, Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat menyembah-Mu,menyebut-nyebut nama-Mu. Bahkan dalam kasih-Mu, ketika aku sakit, nama-Mu menjadi buah bibirku juga. Dan aku selalu berdoa, mendoakan kemurahan hati-Mu untuk menginsafkan umat-Mu.’
‘Lain?’
Haji Saleh tak dapat menjawab lagi. Ia telah menceritakan segala yang ia kerjakan.Tapi ia insaf, pertanyaan Tuhan bukan asal bertanya saja, tentu ada lagi yang belumdi katakannya. Tapi menurut pendapatnya, ia telah menceritakan segalanya. Ia taktahu lagi apa yang harus dikatakannya. Ia termenung dan menekurkan kepalanya.Api neraka tiba-tiba menghawakan kehangatannya ke tubuh Haji Saleh. Dan ia menangis. Tapi setiap air matanya mengalir, diisap kering oleh hawa panas nerakaitu.
‘Lain lagi?’ tanya Tuhan.
‘Sudah hamba-Mu ceritakan semuanya, o, Tuhan yang Mahabesar, lagi Pengasih dan Penyayang, Adil dan Maha Tahu.’ Haji Saleh yang sudah kuyu mencobakan siasat merendahkan diri dan memuji Tuhan dengan pengharapan semoga Tuhan bisa berbuat lembut terhadapnya dan tidak salah tanya kepadanya.Tapi Tuhan bertanya lagi:
‘Tak ada lagi?’
‘O, o, ooo, anu Tuhanku. Aku selalu membaca Kitab-Mu.’
‘Lain?’
‘Sudah kuceritakan semuanya, o, Tuhanku. Tapi kalau ada yang lupa aku katakan,aku pun bersyukur karena Engkaulah Mahatahu.’
‘Sungguh tidak ada lagi yang kau kerjakan di dunia selain yang kau ceritakan tadi?’
‘Ya, itulah semuanya, Tuhanku.’
‘Masuk kamu.’
Dan malaikat dengan sigapnya menjewer Haji Saleh ke neraka. Haji Saleh tidak mengerti kenapa ia di bawa ke neraka. Ia tak mengerti apa yang di kehendaki Tuhan dari padanya dan ia percaya Tuhan tidak silap. Alangkah tercengang Haji Saleh, karena di neraka itu banyak teman-temannya di dunia terpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan ia tambah tak mengerti dengan keadaan dirinya, karena semua orang yang dilihatnya di neraka itu tak kurang ibadatnya dari dia sendiri.
Bahkan ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali ke Mekah dan bergelar syekh pula. Lalu Haji Saleh mendekati mereka, dan bertanya kenapa mereka di nerakakan semuanya. Tapi sebagaimana Haji Saleh,orang-orang itu pun, tak mengerti juga.
‘Bagaimana Tuhan kita ini?’ kata Haji Saleh kemudian,
‘Bukankah kita di suruh-Nyataat beribadat, teguh beriman? Dan itu semua sudah kita kerjakan selama hidupkita. Tapi kini kita dimasukkan-Nya ke neraka.’
‘Ya, kami juga heran. Tengoklah itu orang-orang se-negeri dengan kita semua, dan tak kurang ketaatannya beribadat,’ kata salah seorang diantaranya.
‘Ini sungguh tidak adil.’
‘Memang tidak adil,’ kata orang-orang itu mengulangi ucapan Haji Saleh.
‘Kalau begitu, kita harus minta kesaksian atas kesalahan kita.’
‘Kita harus mengingatkan Tuhan, kalau-kalau Ia silap memasukkan kita ke neraka ini.’
‘Benar. Benar. Benar.’ Sorakan yang lain membenarkan Haji Saleh.
‘Kalau Tuhan tak mau mengakui kesilapan-Nya, bagaimana?’ suatu suara melengking di dalam kelompok orang banyak itu.
‘Kita protes. Kita resolusikan,’ kata Haji Saleh.
‘Apa kita revolusikan juga?’ tanya suara yang lain, yang rupanya di dunia menjadipemimpin gerakan revolusioner.
‘Itu tergantung kepada keadaan,’ kata Haji Saleh.
‘Yang penting sekarang, mari kita berdemonstrasi menghadap Tuhan.’
‘Cocok sekali. Di dunia dulu dengan demonstrasi saja, banyak yang kita peroleh,’sebuah suara menyela.
‘Setuju. Setuju. Setuju.’ Mereka bersorak beramai-ramai.Lalu mereka berangkatlah bersama-sama menghadap Tuhan.Dan Tuhan bertanya,
‘Kalian mau apa?’ Haji Saleh yang menjadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama rendah, ia memulai pidatonya:
‘O, Tuhankami yang Maha Besar. Kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat, yang paling taat menyembahmu. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu, memuji-muji kebesaran-Mu, mempropagandakan keadilan-Mu,dan lain-lainnya. Kitab-Mu kami hafal di luar kepala kami. Tak sesat sedikitpun kami membacanya. Akan tetapi, Tuhanku yang Maha Kuasa setelah kami Engkau panggil kemari, Engkau memasukkan kami ke neraka. Maka sebelum terjadi hal-hal yang tak diingini, maka di sini, atas nama orang-orang yang cinta pada-Mu, kami menuntut agar hukuman yang Kau jatuhkan kepada kami ke surga sebagaimana yang Engkau janjikan dalam Kitab-Mu.’
‘Kalian di dunia tinggal di mana?’ tanya Tuhan.
‘Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku.
’‘O, di negeri yang tanahnya subur itu?’
‘Ya, benarlah itu, Tuhanku.’‘Tanahnya yang mahakaya raya, penuh oleh logam, minyak, dan berbagai bahan tambang lainnya, bukan?’
‘Benar. Benar. Benar. Tuhan kami. Itulah negeri kami.’ Mereka mulai menjawab serentak. Karena fajar kegembiraan telah membayang di wajahnya kembali. Dan yakinlah mereka sekarang, bahwa Tuhan telah silap menjatuhkan hukuman kepadamereka itu.
‘Di negeri mana tanahnya begitu subur, sehingga tanaman tumbuh tanpa di tanam?’
‘Benar. Benar. Benar. Itulah negeri kami.’
‘Di negeri, di mana penduduknya sendiri melarat?’
‘Ya. Ya. Ya. Itulah dia negeri kami.’
‘Negeri yang lama diperbudak negeri lain?’‘Ya, Tuhanku. Sungguh laknat penjajah itu, Tuhanku.’
‘Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya, dan diangkut ke negerinya, bukan?’
‘Benar, Tuhanku. Hingga kami tak mendapat apa-apa lagi. Sungguh laknat mereka itu.’
‘Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi, sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan?’
‘Benar, Tuhanku. Tapi bagi kami soal harta benda itu kami tak mau tahu. Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Engkau.’
‘Engkau rela tetap melarat, bukan?’
‘Benar. Kami rela sekali, Tuhanku.’
‘Karena keralaanmu itu, anak cucumu tetap juga melarat, bukan?’
‘Sungguhpun anak cucu kami itu melarat, tapi mereka semua pintar mengaji. Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala.’
‘Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak di masukkan ke hatinya, bukan?’
‘Ada, Tuhanku.’
‘Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu,saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk di sembah saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan dikeraknya!
"Semua menjadi pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka sekarang apa jalan yang diridai Allah di dunia. Tapi Haji Saleh ingin juga kepastian apakah yang akan di kerjakannya di dunia itu salah atau benar. Tapi ia tak berani bertanya kepada Tuhan. Ia bertanya saja pada malaikat yang menggiring mereka itu.
‘Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami, menyembah Tuhan di dunia?’ Tanya Haji Saleh.
‘Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat sembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaum mu sendiri, melupakan kehidupan anak isterimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikit pun.
’Demikianlah cerita Ajo Sidi yang kudengar dari Kakek. Cerita yang memurungkan Kakek. Dan besoknya, ketika aku mau turun rumah pagi-pagi, istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk.
"Siapa yang meninggal?" tanyaku kagut.
"Kakek."
"Kakek?"
"Ya. Tadi subuh Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Ia menggoroh lehernya dengan pisau cukur."
"Astaga! Ajo Sidi punya gara-gara," kataku seraya cepat-cepat meninggalkan istriku yang tercengang-cengang. Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Tapi aku berjumpa dengan istrinya saja. Lalu aku tanya dia.
"Ia sudah pergi," jawab istri Ajo Sidi.
"Tidak ia tahu Kakek meninggal?"
"Sudah. Dan ia meninggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis."
"Dan sekarang," tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikit pun bertanggung jawab,
"Dan sekarang kemana dia?"
"Kerja."
"Kerja?" tanyaku mengulangi hampa.
"Ya, dia pergi kerja."
Sumber : http://cerpen.net
Unsur intrinsik adalah unsur dalam yang membentuk penciptaan karya sastra. Unsur ini berupa tema, amanat, latar, alur, penokohan,
Tema
Pengarang yang sedang menulis cerita pasti akan menuangkan gagasannya. Tanpa gagasan pasti dia tidak bisa menulis cerita. Gagasan yang mendasari cerita yang dibuatnya itulah yang disebut tema dan gagasan seperti ini selalu berupa pokok bahasan.
Tema atau pokok persoalan cerpen Robohnya Surau Kami terletak pada persoalan batin kakek Garin setelah mendengar bualan Ajo Sidi.
tema cerpen ini adalah seorang kepala keluarga lalai itu sehingga masalah kelalaiannya itu akhirnya mampu membunuh dirinya.
Amanat
Amanat merupakan keinginan pengarang untuk menyampaikan pesan atau nasihat kepada pembacanya.
Amanat yang terdapat dalam cerpen Robohnya Surau Kami adalah
(a) Jangan cepat marah kalau ada orang yang mengejek atau menasehati kita karena ada perbuatan kita yang kurang layak di hadapan orang lain.
(b) Jangan cepat bangga akan perbuatan baik yang kita lakukan karena hal ini bisa saja baik di hadapan manusia tetapi tetap kurang baik di hadapan Tuhan itu.
(c) Kita jangan terpesona oleh gelar dan nama besar sebab hal itu akan mencelakakan diri pemakainya.
(d) Jangan menyia-nyiakan apa yang kamu miliki,
(e) Jangan mementingkan diri sendiri
Latar
Dalam suatu cerita latar dibentuk melalui segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya suatu peristiwa. Latar ini ada tiga macam, yaitu: latar tempat; latar waktu; dan latar sosial.
Latar Tempat
Latar tempat yang ada dalam cerpen ini jelas disebutkan oleh pengarangnya, seperti kota, dekat pasar, di surau,
Latar Waktu
Latar jenis ini, yang terdapat dalam cerpen ini ada yang bersamaan dengan latar tempat, seperti yang sudah dipaparkan di atas pada latar.
Latar Sosial
Latar sosial ini menunjukkan bahwa salah satu tokoh dalam cerita ini termasuk kedalam kelompok sosial pekerja. Datanya seperti ini.
Alur (plot)
Alur adalah peristiwa-peristiwa yang diceritakan dengan panjang lebar dalam suatu rangkaian tertentu dan memiliki struktur.
Penokohan
Yang dimaksud dengan penokohan yakni bagaimana pengarang menampilkan perilaku tokoh-tokohnya berikut wataknya.
a. Tokoh Aku
b. Ajo Sidi
c. Si Kakek
d. Haji Saleh
Uji kompetensi
Bacalah cerpen dibawah ini
KUPU-KUPU BERWARNA UNGU
Hari mulai menampakkan warna jingganya yang lembut. Angin semilir membelai tiap helai rumput liar di tanah yang lapang itu. Pohon-pohon yang kokoh bergoyang mengikuti hembusan angin yang tak tentu arah.
Burung terbang kesana-kemari. Mengepakkan sayap kecilnya yang penuh dengan bulu lembutnya.
Burung-burung itu hinggap di ranting pohon mangga milik laki-laki tua, yang selalu mengumpulkan kayu-kayu yang nantinya akan dijual untuk nafkah anak istrinya.
Seekor ulat hijau kecil diam menatap burung-burung itu terbang kesana-kemari. Dia menatapnya penuh kekaguman. Ulat itu duduk diam di atas pohon yang telah tumbang. Dapat terlihat umur pohon itu dari tiap lingkar usianya.
Ulat hijau itu terus menatap burung-burung yang masih berterbangan.
Burung-burung itu sibuk mencari makanan, entah itu cacing ataupun biji-bijian untuk diberikan kepada anak-anaknya. Sesekali terlihat satu-dua burung membawa sehelai daun kering. Daun-daun kering itu akan ia kumpulkan untuk membuat sarang yang besar dan hangat.
Dengan penuh kesabaran, para burung itu sibuk mengurus dirinya sendiri. Terbang bebas menembus cakrawala senja. Ulat hijau itu masih terus menatap burung-burung itu. Dia mulai berfikir
.“Aku ingin menjadi burung. Bisa terbang kesana kemari. Bersama kawanan burung. Membangun sarang. Sungguh pintar burung-burung itu. Membangun sarang dari daun yang kering, namun hangat. Aku akan menghasilkan telur yang banyak. Aku ingin menjadi burung. Burung punya bulu lembut. Aku tak mungkin kedinginan. Berpeluk bulu-bulu hangat dan tertidur pulas. Aku ingin menjadi seekor burung.”
Dan ulat itu masih diam melihat burung-burung itu. Esoknya, udara begitu panas. Matahari sangat terik dan membosankan. Pekarangan milik laki-laki tua itu terasa sangat gersang. Meskipun tumbuhan hijau mengelilingi pekarangan rumah itu, tapi udara begitu panas untuk dinikmati. Ulat hijau itu masih duduk terdiam di atas pohon yang tumbang itu. Dia tidak ingin kemana-mana. Dia merasa gerah apabila berjalan kesana-kemari. Dan itu membuatnya merasa tidak nyaman. Dengan tubuh gemuk dan kecil, membuatnya cepat merasa gerah.
Senja pun mulai menghiasi langit.
Mulai bermunculan capung-capung dari segala arah. Mereka terbang kesana-kemari. Dua sayap tipisnya bergerak begitu cepat. Seakan sangat ringan untuk dipatahkannya.Ulat hijau itu menatap kagum capung-capung yang ramai berterbangan di pekarangan milik laki-laki tua itu. Duduk diam menatap capung. Suara ngiungan capung membuat bising, tapi merdu. Para capung saling bergerombol dan terbang naik-turun. Kompak sekali. Sesekali mereka berhenti terbang tetapi masih melayang. sesekali capung-capung itu hinggap di dahan pohon atau pun bunga-bunga. Ulat kecil itu mulai berfikir.
“Aku ingin menjadi capung. Di cuaca panas seperti ini pasti menyenangkan terbang bersama kawanan capung yang lain. Badan yang ramping kecil tidak akan membuat badan gerah meski terbang di cuaca panas seperti ini. Sayapku tipis tetapi bisa mengepak cepat dan terasa ringan. Aku ingin menjadi capung.”
Ucapnya pada diri sendiri. Ulat hijau itu masih menatap ratusan capung di pekarangan rumah milik lelaki tua itu. Menatap dengan kagum.Esoknya, udara masih panas. Tetapi tidak sepanas kemarin. Ulat kecil itu masih duduk di atas pohon yang telah tumbang itu. Dia jalan-jalan di atasnya. Badannya mulai terasa berat dan lebih berisi.
Sesaat dia terpaku melihat segerombolan lebah datang dan berkumpul pada ranting pohon mangga milik lelaki tua itu. Badan lebah yang kecil hitam dan sedikit berbulu membuat ulat hijau itu kagum terhadap penampilannya. Ada jarum kecil di ujung ekornya. Dan sepertinya ulat hijau itu tahu kegunaannya. Pasti untuk melindungi diri lebah dari serangan lain.
Ulat hijau itu duduk menatap lebah yang sibuk pada kegiatan yang dilakukannya. Membuat madu. Ulat hijau melihat sarang lebah yang berlubang di atas pohon mangga itu. Berkali-kali lebah-lebah itu meletakkan ujung ekornya ke dalam lubang itu. Selepasnya terlihat cairan mengkilat dan kental di dalamnya. Begitu menakjubkan tontonan itu. Ulat kecil itu tak berhenti menatap lebah-lebah itu. Dia mulai berfikir.
“Aku ingin menjadi lebah. Badannya yang bagus, hitam, berbulu dan punya senjata di ujung ekornya membuatku lebih merasa kuat. Aku ingin menghasilkan cairan kental itu setiap hati. Cairan itu begitu mengkilat dan aku ingin memilikinya. Aku ingin menjadi lebah.”
Katanya lalu berjalan menuju kaki pohon mangga. Badan kecilnya menggeliat pelan menuju kaki pohon mangga itu. Dia harus melewati rumput-rumput hijau yang tinggi, harus melewati kerikil-kerikil yang menurutnya sangat besar. Melewati sampah-sampah kecil yang dipenuhi oleh hewan-hewan kecil. Dan harus melewati hewan-hewan kecil yang lain seperti semut dan kutu.
“Aku ingin menemui lebah-lebah itu. Aku ingin bertemu dengan mereka. Aku ingin cepat-cepat bertemu dengan mereka!!” serunya.
“Lihatlah para makhluk kecil, aku akan menjadi lebah, dan terbang di atas kalian!”
Butuh waktu lama untuk sampai ke atas ranting pohon mangga itu. Badan gemuknya membuat gerah yang tidak karuan. Apalagi hari demi hari badannya semakin gemuk dan besar saja.Saat dia hampir sampai di mana lebah itu bersarang, terdengar bisik-bisik semut merah yang juga melewati batang bohon mangga.
“Hei kawan,” sapa semut merah pada kawanan semut lainnya, “tidakkah kalian lihat ulat hijau itu. Badannya mulai membesar dan berbentuk! Akankah dia menjadi kepompong dan berubah menjadi kupu-kupu?”
Ulat hijau kecil itu terhenti sejenak.
“Ya, sudah waktunya dia berubah wujud.” Sahut semut lainnya.
“Akankah dia cantik? Secantik kupu-kupu yang ada di taman bunga itu?” tanya semut merah yang paling kecil.
“Ya, aku pikir begitu.” Sahut semut merah yang lain. Kemudian mereka pergi.
Kupu-kupu? Batin ulat hijau, makhluk apa itu? Cantik? Dan aku akan berubah menjadi kupu-kupu? Apa kelebihannya? Apa lebih pintar dari burung? Apa lebih lincah dari capung? Apa lebih kuat dari lebah? Aku ingin melihat kupu-kupu!
Dimana aku bisa menemukannya? Tunggu!! Taman bunga! Ya! Di situ tempatnya. Tapi di mana aku bisa menemukan taman bunga?
Kini ulat hijau itu berbalik arah menuju kaki pohon mangga, tapi langkahnya terhenti. Samar-samar terlihat warna-warni di sebelah utara pekarangan milik lelaki tua itu. Dan terlihat makhluk bersayap lebar terbang di sekeliling negeri penuh warna itu.
“Itu taman bunga.” Ujar kupu-kupu betina. Kupu-kupu betina itu tiba-tiba sudah ada di belakang ulat hijau itu. Sayapnya yang berwarna kuning menyala itu sangat indah dan mengagumkan. Sejenak ulat hijau terpukau melihat sayap lebar yang indah itu.
“Taman bunga?”
“Ya. Akankah kau mau menyusul kami?”
“Aku? Tapi apa lebah bisa ikut kalian?”
“Lebah? Kau akan menjadi kupu-kupu.”
“Kupu-kupu? Seperti apa kupu-kupu itu? Apakah dia cantik?”
“Kau akan menjadi kupu-kupu jantan yang tampan. Sayapmu akan memancarkan keindahanmu. Tunggulah waktunya.”
“Apa kau kupu-kupu itu?” Kupu-kupu betina itu mengangguk. Ia menjulurkan belalainya yang panjang menggulung di mulutnya.
“Kau akan mengiasi taman bunga. Dan mengobati luka para manusia yang gundah gulana. Mempercantik taman mereka, dan itu menyenangkan. Aku tunggu kau di taman itu. Tunjukan sayap indahmu padaku.” Ujarnya lalu pergi meningalkan ulat hijau itu.
“Kupu-kupu?” katanya pada diri sendiri.
“Menghiasi taman, cantik, mengobati luka manusia yang gundah gulana, dan sayapku indah. Aku ingin menjadi kupu-kupu! Tapi kapan aku menjadi seperti mereka?” Ulat hijau itu diam merenung di batang pohon mangga itu. Ia mengurungkan niatnya bertemu dengan lebah-lebah itu. Tiba-tiba terdengar jerit melengking dari dalam rumah lelaki tua itu. Ternyata anaknya yang menjerit. Laki-laki tua dan anaknya keluar dari rumah dengan terburu-buru. Kening anak itu bengkak dan berwarna merah kebiru-biruan.
“Lebah itu menusukku!!” jeritnya.
“Usir dia, Ayah!”
“Cepat kompres dengan ini.” Ayahnya memberikan handuk hangat pada anaknya.
Ulat hijau itu kaget melihat peristiwa itu. Ingin dia menghibur anak kecil itu agar tidak menangis lagi. Ingin dia mencium keningnya agar tidak terasa sakit lagi. Dia merasa iba dengannya.
“Mengapa lebah itu jahat?” tanyanya pada diri sendiri.
“Lebah menyakiti anak kecil itu. Kasihan dia... aku akan menghiburnya jika aku menjadi kupu-kupu nanti...”
Tiba saatnya, ulat kecil itu diselimuti selaput hijau. Badannya mulai terbungkus dan menempel pada batang pohon mangga itu. Warna hijau muda yang terlihat sangat segar. Kepompong itu diam di batang pohon mangga itu selama berhari-hari. Hari demi hari, warna hijau kepompong itu memudar dan menjadi putih pucat kecoklatan. Selimut itu menjadi kering dan mulai robek.Perlahan sayap basah dan berwarna ungu itu menyumbul dari selimut keringnya. Badannya yang mungil melepaskan diri dari kamar kecilnya itu. Kaki-kaki tipis itu mulai dijejakkan di permukaan batang pohon mangga itu. Belalai yang panjang dan menggulung telah dimilikinya. Pelahan digerak-gerakkannya sayap yang sudah melai mengering itu, semakin cepat dan terbanglah kupu-kupu tampan itu. Akhirnya dia merasakan terbang bebas di kaki langit, melihat dunia sebatas cakrawala mata, dengan badan ramping dan sayap yang indah.
Sesegera mungkin dia terbang menuju taman bunga itu. Dilihatnya bunga-bunga yang begitu memikat hati. Hasrat untuk mendekatinya sangat besar. Kupu-kupu muda itu hinggap di atas bunga mawar putih. Untuk pertama kalinya belalai panjang itu digunakannya untuk menghisap madu. Begitu nikmat madu ini..., batinnya, ah..., aku lupa! Aku harus menemui kupu-kupu bersayap kuning itu. Tapi..., dimana dia??Kupu-kupu itu terbang mencari dari kupu-kupu bersayap kuning itu. Dia berkeliling taman mencarinya. Sesaat kemudian, dia bertemu dengan kupu-kupu betina tersebut.
“Kau sudah berubah ternyata. Aku telah lama menunggumu di sini.” Ujar kupu-kupu bersayap kuning itu.
“Kini tiba saatnya aku mengatakan sesuatu padamu. Aku akan terbang ke taman lain, dan aku tidak akan pergi sebelum bertemu dengan kau.”
“Tapi mengapa kau pergi? Aku baru saja menjadi kupu-kupu dan baru saja bertemu dengan kau, tapi mengapa kau ingin pergi meninggalkan aku?”
“Cita-citaku sebagai kupu-kupu, adalah pergi ke seluruh taman di negeri ini. Tapi itu mustahil. Aku hanya bisa pergi dari taman satu ke taman yang lainnya. Dan sudah waktunya aku pergi lagi.”
“Tapi...”
“Jadilah kupu-kupu yang baik dan cantik. Jadilah dirimu sendiri. Buatlah hidupmu berarti. Buatlah cita-cita untuk tujuan hidupmu.” Kupu-kupu betina itu bersiap untuk terbang.
“Ikuti kata hatimu...” ujarnya lalu pergi. Itu kata-kata terakhir yang diucapkan kupu-kupu bersayap kuning itu. Tinggalah kupu-kupu muda bersayap ungu sendiri. Akhirnya dia memutuskan untuk terbang mencari sesuatu yang mungkin bisa dijadikan obyek bermainnya. Dia terbang menuju rumah milik lelaki tua itu. Terlihat lelaki tua dan anaknya sedang bersenda gurau. Istrinya sedang memasak di dapur. Kupu-kupu muda itu masuk ke rumah itu. Akhirnya dia bisa masuk ke dalam rumah itu.
“Ayah! Ada kupu-kupu cantik di sini!”
Lelaki tua itu mengulurkan tangannya, dan kupu-kupu muda itu hinggap di punggung telapak tangan lelaki tua itu.Begitu menginjakkan kakinya di tangan yang mulai keriput itu, pikiran kecil masuk di otaknya.
“Aku ingin menghibur keluarga ini. Aku akan selalu hadir dalam hidup mereka. Aku bercita-cita membawa keindahan di rumah mereka. Aku ingin menghiasi rumah mereka. Sampai aku mati nanti...”
Latihan
1. Ceritakan kembali isi cerpen kupu-kupu berwarna ungu!
2. Jelaskanlah unsur intrinsic dalam cerpen diatas
a) Tema
b) Latar
c) Alur
d) Penokohan
e) Amanat
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)